Hujan masih riangnya mengguyur bumi, dalam senja yang hilang ditelan oleh awan hitam. Genggaman suasana dingin menyelimuti tanpa ampun kulit-kulit yang telanjang tak tertutupi sehelai benang. Pecahan-pecahan tetesan menghancurkan pertahanan gumpalan-gumpalan tanah. Desahan-desahan angin semakin membuat harmoni guyuran yang mengantar membuka pintu malam yang akan diselimuti suasana sepi. Dalam dekapan selimutku yang hangat aku mencoba menyelesaikan buaian yang semalam terputus begitu saja tanpa peringatan. Aku hanya menggeliat menikmati kenikmatan otot-ototku yang relaksasi dalam kenikmatannya.
Gerimis sama sekali tak memperdulikan suara talu-talu panggilan tuhan. Suara-suara panggilan bagi seru sekalian alam itu pun juga tak membuatku bergeming dari pelukan kenyamanan kehangatan dalam ranjangku yang lembut. Badai kecil dalam hatiku bergejolak berperang oleh tawanan badai nafsu dengan panggilan talu-talu kumandang yang menyeret pilu sayatan mengajak berdamai dengan tuhan.
Suasan gelap, halilintar menyambar, gulungan–gulungan angin memutar dek hatiku. Gelombang buaian membuat kapal hatiku ternbanting oleh gelombangnya itu. Kukumpulakan sedikit-sedikit prajurit hati putihku sekedar menyuarakan teriakan bak kapten kepada para awak kapalku untuk memerangi hawa nafsu yag menghantam kapalku ditengah samudra kehangatan. Sampai kapan badai ini akan berlutut kepadaku bila aku tak bergerak malawannya dengan tanganku sendiri dan hanya menyuruh awak-awak kapalku untuk mendirikan tiang layar yang tak mereka mengerti bagaimana mendirikan kapal yang baik bila terhantam oleh badai dan pusaran angin seperti ini.
Talu-talu panggilan masih tersisa beberapa detik dalam ingatan telinga yang kututupi dengan bantal yang empuk. Kapal hatiku masih terkepung badai yang siap menghancurkan kapalku. Jilatan-jilatan kenikmatan masih membelaiku dan dengan waktu yang sama didalam hatiku pusaran angin menggerus dinding kapal kayuku yang masih berbau cat karena masih baru dibuat. Dalam hatiku yang ada dalam hatiku sebagai kapten kapal aku berkeyakinan pasti badai akan segera berlalu.
Dalam kesadaran bantal dan selimutku aku mulai mendengar suara iqomah yang menandakan agar dimulai persembahan untuk tuhan dalam kekusyukan dan terenungnya sebuah hamaba untuk sang khalik. Aku hampir meneyerah kepada sang badai dan membiarkan kapalku tenggelam begitu saja dengan semua awakku kedalam dasar laut yang gelap dan dalam.
Pusaran angin sudah memutar-mutar kapalku. Tiang kapalku sudah bersuara dalam gemerataknya hampir memutuskan dirinya bertekuk lutut oleh sang badai. Ketika pusaran air mengoyak kapalku tiba-tiba gelombangnya sedikit perlahan tenang, awan yang hitam yang sangat tebal terintip oleh secercah sinar matahari dalam tusukan sinarnya yang menghujam kelaut dan dalam penasarannya dia membuka seluruh tirai awan hitam ,dalam senyumnya yang menyilukan telah mengganti awan hitam tebal yang kelabu dengan samudra lagit biru yang bersih.
Gelombang laut begitu tenang hampir tak kudengar sedikitpun alunananya begitu tenang membawa kapalku ditengah samudra yang terhampar luas mata memandang. Seluruh awak kapalku bersorak-sorak dalam lompatan-lompatan senang dan terlepas dari keputusasaan yang hmpir menenggelamkan mereka. Bersamaan dengan itu dalam duniaku yang terselimuti kehangatan selimutku, aku bangkit dan segera melangkahkan kakiku ketempat mengambil segemiricik air dan segera membasuh tubuhku dengan air suci wudlu yang menjadi tiket untuk berbicara dengan tuhanku, dengan rabbku, dengan maha kasihku yang mengijinkan aku bisa merasakan badai-badai kehidupan. Kapal hatiku dan sebagai kapten aku tersenyum kepada seluruh awak kapal dan menandakan kepada mereka perjalanan dilanjutkan. Akupun berkata ”ini masih badai peringatan, akan ada badai sesungguhnya disepan, bersiaplah” seluruh awak kapal hatiku tersenyum dan kulihat pancaran matanya menyorotkn ketiadatakutan akan perjalanan yang menghadang didepan.
٭
Dalam sujudku yang terakhir aku merasakan kedamaian yang begitu damai dalam perjalanan sebuah relung untuk sekedar bisa merasakan betapa megahnya sebuah ketertundukan.
Yogyakarta, 23 februari 2010