Takbir dalam rintih

Kamis, 30 Juli 2020

Terbiasa tak pantas kadang membuat diriku tak pernah pantas untuk apapun
Terbiasa mengalah dengan egoku membuatku memendam segala kepantasan itu
Jadilah semua petaka dalam hidupku, penuh dosa tak terhingga untuk meluapkan segala penekanan itu
Tak berfikir jernih hanya memuaskan dobrakan urakan itu
Oh Allah masih pantaskan kusandingkan namamu di hatiku?

Hari ini langit begitu diam dan tenang
kudengarkan sayup-sayup takbir malam ini
Kulihat orang-orang mengelilingi rumahmu
Namun hatiku masih bergejolak tak karuan mendengarkan semua itu
Ingin kusambut dengan ketenangan seperti takbirmu yang menenangkan

Diujung telfonku kudengar rintihannya lagi, kali ini lebih lirih
Namun kekuatan kesakitannya terdengar menyakitkan
Sampai kapan kau siksa raga itu ya Allah
Salah apakah dia hingga kau siksa tak berujung dan berkesudahan?

Apakah aku juga akan berkahir seperti itu mengingat betapa kelamnya dosaku?
Diujung takbir-takbir yang menenagkanku malam ini aku hanya bisa menelan semua ketegangan itu

Sebenarnya aku malu untuk memintamu untuk sekedar memanggilku kerumahmu ya Allah
Namun seperti sebuah oase aku ingin pergi 
Kesana, mencari pantas dan tenangku

Dan bertanya apa salahku dan raga yang kau siksa itu, 
Berputar tak berhenti mendobrak pikiranku yang dangkal



Read More