Kesempurnaan sosial media menjadi sebuah bencana besar juga untuk umat manusia tahun-tahun ini. Banyak influencer yang menampilkan kesempurnaan tanpa cacat. Seakan orang awam seperti kita hidupnya sangat jauh dari kesempurnaan itu, mempengaruhi mental dan tidak membuat bahagia adalah hal yang sangat negatif untuk tahun-tahun ini. Saya sendiri lebih senang akan influencer yang mengulas tentang gender equality, kehidupan manusia yang wajar, dll daripada home decor yang selalu terlihat sempurna tanpa cela. Banyak influencer juga yang menormalisasikan rumah yang berantakan, beratnya punya bayi di awal-awal kelahiran, pernikahan yang tidak sempurna atau anak yang tidak sempurna bahkan kita sendiri yang tidak sempurna.
Bukankah manusia itu tidak sempurna yang membuatnya manusia? kehidupan influencer atau selebritas papan-papan atas dimana hidupnya sempurna tanpa cela, apakah mereka bahagia 100% tentu bisa tidak dan iya tapi kemungkinan tidak 100% besar sekali, karena manusia sendiri tidak sempurna hanya sekedar terlihat sempurna di media sosial.
Saya sendiri sekarang memang lebih bahagia bila berkumpul dengan siapapun tanpa pegang gadget dan lebih menikmati obrolan sederhana tapi hadir seutuhnya. Sampai detik ini akupun mengalami kecematas atas terlalu capek memegang gadget dan hanya scrolling media media sosial. sampai di tahap melihat hp saja sedikit mual dan pusing.
Media sosial menjadi boomerang atas penemuan manusia, ya memang puasa media sosial saat ini sangat bisa di pertimbangkan. Namun aku masih kesulitan atas oversharingku juga di media sosial. karena kurangnya kegiatan di dunia nyata membuatku lebih banyak scrolling media sosial. Betapa dampaknya terasa atas sumber kebahgiaanku, kecemasan menyerang, dan lain sebagainya.
Belajar untuk mengurangi media sosial dan pamer ku di media sosial. Tidak ku pungkiri terkadang sharing sesuatu di media sosial menjadi pamer atas kehidupanku, mau berbagi dan biar "di lihat orang". Betapa terkadang ku mengutuk diriku atas oversharingku, namun memang tiada kurangnya kegiatan di dunia nyata membuatku sering posting tidak penting di media sosialku.
Balik ke influencer yang serba sempurna, mereka juga berusaha "make living" dari media sosial, tidak dipungkiri media sosial menjadi sumber pundi-pundi uang yang tidak sedikit, banyak malah. Tidak terpikirkan 15 tahun lalu mungkin orang akan mendapat uang dari kegiatan hanya dari layar sentuh yang kecil. tidak dipungkiri kesempurnaan-kesempurnaan, info-info financial, serta isi-isi semua tips dan trick kehidupan semuanya hanya dari media sosial dan menajdi pekerjaan yang menjanjikan.
Memang sudah waktunya kita punya batasan sendiri dalam memilih isi media sosial kita atau lebih tepatnya membatasi diri kalau kita sendiri sadar atas bounderies kita dalam melihat hal-hal yang akan sangat membuat kita cemas, membandingkan, merasa rendah diri, merasa diri ini tidak berharga memang seharusnya kita tidak sering-sering melihat media sosial dan berusaha uninstall media sosial kita agar kita tidak semakin menjadi tidak bahagia.
begitulah kejulidanku, hanya melihat dari sisiku saja, rasanya memang seharusnya aku harus berkaca dan berefleksi mencari kegiatan yang berfaedah daripada mengutuki kehidupan orang lain di media sosial yang dia bangun yang kita tidak tahu di belakangnya ada darah dan airmata. Bukan menyalahkan orang lain atas terlihat bahagianya namun kita yang harus bisa menajga hati kita, sudah harus menetapkan bounderies kita sendiri, follow unfollow ada ditanganmu, buka atau tidak buka hp ada di tanganmu, bukan ada di postingan influencer atau orang lain.