
siang ini begitu panas sehingga terkadang membuatku malas untuk sekedar menginjakkan kaki mengisi sejumput nasi keperutku. Hawa panas hari ini begitu gerah membuat suasana yang berbeda pada kota yang semula kota yang begitu sejuk dan ramah, kota Yogyakarta. Setelah maraknya isu-isu pemanasan global atau yang disebut-sebut orang barat dengan gobal warming semakin benar adanya kukira. Cuaca yang tidak menentu setiap hari membuat smakin gerah setiap orang, ketika pagi hujan deras dan dingin tiba-tiba saja siang sampai malam panas bukan main kepalang. Banyak kepala-kepala mengeluhkan keadaan ini. Tapi tak sadarkah mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Tak pernah sadar apa yang masing-masing terkutat dalam goa yang gelap tak mau berfkir.
Dalam ranjangku yang semakin memanas aku pun mendengar beberapa teman-teman dalam satu nasib dalam gubuk kost mengeluh panasnya cuaca hari ini. Semakin saja aku menutup sudut-sudut celah cahaya yang berusaha masuk kedalam kamar sempitku yang mungkin akan semakin membuat panas hawa dan hati ini. Namun bisikan yang melilit dalam perutku membuatku semakin ingin beranjak mengganjal lilitan dalam perut kosong ini.
Dalam langkah gontai dan malas aku tetap meringis menahan panasnya sang surya yang seolah semakin dekat dengan ubun-ubunku. Dalam cahaya yang silau nampak kejauhan seorang bapak tua nampak berteduh dalam pos tua dan sedang mengipas-ngipaskan topi pada wajahnnya. Dalam wajah tuanya nammpak begitu lelah dan merasa sangat kepayahan. dalam relungku sedikit terharu. dan semakin terharu aku melihat disampingnya bersandar sebuah sepeda tuanya dengan gerobak dan beberapa barang bekas dan kardus. dalam fikirku pasti dia seorang pemulung. Dan semakin aku miris dan panas melihatnya.
Masih berlanjut dalam kejauhan terlihat lelaki tua itu. Dalam panas dia masih kuat melanjutkan mencari sejumput nasi untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan diriku terkadang sangat malas hanya untuk sekedar membeli sebungkus nasi dengan uang yang sudah ada didompetku. Dalam hati aku tak mau berjanji atau apa atas apa yang kulihat. Sadar dalam diriku aku hanya sesaat melihatnya bila kuberjanji saat itu pasti itu hanya janji palsu yang masih dipengaruhi perasaan ababil remaja.
terngiang kembali bahwa lelaki tua itu mengumpulkan barang-barang bekas dan beberapa kardus dn kertas. Yah inilah pandang potret keadaan saat ini. Sebenarnya banyak sekali pohon hijau yang dijadikan untuk sekedar barang bekas dan dipungut dengan harga yang sangat rendah. padahal bumi ini menelurkan pohon-pohon itu sangat lama dan penuh kedetilan bentuk. Namun terkadang kerakusan manusia terlalu serakah untuk ingin sesuatu yang berlebih sesuatu yang sangat memuaskan mereka.
Tidak ada yang akan menjaga bumi kita ini selain kita penghuninya, tidak hanya disiplin dan peduli namun sadar dan take action harus menjadi pribadi individu yang akan manjadi pahlawan sang bumi yang semakin tak hijau ini. Ketika masa mendatang fosil yang tak bisa diharapkan maka manusia akan masuk pada zona transisi besar-besaran yang tak dapat kita bayangkan bagaimana kehancuran besar-besaran dan yang kuat yang akan menang. Sedikit sekali yang sadar akan hal ini, sadar betapa bumiku semain hangus terbakar oleh panasnya sang matahri dan dirinya yang semkain mengeleurkan anas kepayahan dan batuk oleh asap yang terperangkap dalam jaringan tubuhnya.
Manusia semakin serakah dan serakah "memperkosa" besar-besaran bumi ini. Menunggu saja kapan manusia-masnusi yang tak sadar untuk sadar. Mereka masih mengeluhkan hawa panas hari ini atau hari selanjutnya yang semakin memanas. Ku tersentak bangun ketika ibu warung yang mau menyerahkan nasi bungkus belianku dari lamunan beberapa menit memikirkan hawa panas tadi, ah aku pun masih menggunakan plastk sampah ini, bahkan diriku saja masih serakah dan tak sadar pikirku. Bagaimana dengan para penguasa yang semakin tak peduli juga.
Bumi ini menyediakan semua kebutuhan manusia, namun tidak untuk kerakusannya
-mahatma gandhi-
Dalam ranjangku yang semakin memanas aku pun mendengar beberapa teman-teman dalam satu nasib dalam gubuk kost mengeluh panasnya cuaca hari ini. Semakin saja aku menutup sudut-sudut celah cahaya yang berusaha masuk kedalam kamar sempitku yang mungkin akan semakin membuat panas hawa dan hati ini. Namun bisikan yang melilit dalam perutku membuatku semakin ingin beranjak mengganjal lilitan dalam perut kosong ini.
Dalam langkah gontai dan malas aku tetap meringis menahan panasnya sang surya yang seolah semakin dekat dengan ubun-ubunku. Dalam cahaya yang silau nampak kejauhan seorang bapak tua nampak berteduh dalam pos tua dan sedang mengipas-ngipaskan topi pada wajahnnya. Dalam wajah tuanya nammpak begitu lelah dan merasa sangat kepayahan. dalam relungku sedikit terharu. dan semakin terharu aku melihat disampingnya bersandar sebuah sepeda tuanya dengan gerobak dan beberapa barang bekas dan kardus. dalam fikirku pasti dia seorang pemulung. Dan semakin aku miris dan panas melihatnya.
Masih berlanjut dalam kejauhan terlihat lelaki tua itu. Dalam panas dia masih kuat melanjutkan mencari sejumput nasi untuk menghidupi keluarganya. Sedangkan diriku terkadang sangat malas hanya untuk sekedar membeli sebungkus nasi dengan uang yang sudah ada didompetku. Dalam hati aku tak mau berjanji atau apa atas apa yang kulihat. Sadar dalam diriku aku hanya sesaat melihatnya bila kuberjanji saat itu pasti itu hanya janji palsu yang masih dipengaruhi perasaan ababil remaja.
terngiang kembali bahwa lelaki tua itu mengumpulkan barang-barang bekas dan beberapa kardus dn kertas. Yah inilah pandang potret keadaan saat ini. Sebenarnya banyak sekali pohon hijau yang dijadikan untuk sekedar barang bekas dan dipungut dengan harga yang sangat rendah. padahal bumi ini menelurkan pohon-pohon itu sangat lama dan penuh kedetilan bentuk. Namun terkadang kerakusan manusia terlalu serakah untuk ingin sesuatu yang berlebih sesuatu yang sangat memuaskan mereka.
Tidak ada yang akan menjaga bumi kita ini selain kita penghuninya, tidak hanya disiplin dan peduli namun sadar dan take action harus menjadi pribadi individu yang akan manjadi pahlawan sang bumi yang semakin tak hijau ini. Ketika masa mendatang fosil yang tak bisa diharapkan maka manusia akan masuk pada zona transisi besar-besaran yang tak dapat kita bayangkan bagaimana kehancuran besar-besaran dan yang kuat yang akan menang. Sedikit sekali yang sadar akan hal ini, sadar betapa bumiku semain hangus terbakar oleh panasnya sang matahri dan dirinya yang semkain mengeleurkan anas kepayahan dan batuk oleh asap yang terperangkap dalam jaringan tubuhnya.
Manusia semakin serakah dan serakah "memperkosa" besar-besaran bumi ini. Menunggu saja kapan manusia-masnusi yang tak sadar untuk sadar. Mereka masih mengeluhkan hawa panas hari ini atau hari selanjutnya yang semakin memanas. Ku tersentak bangun ketika ibu warung yang mau menyerahkan nasi bungkus belianku dari lamunan beberapa menit memikirkan hawa panas tadi, ah aku pun masih menggunakan plastk sampah ini, bahkan diriku saja masih serakah dan tak sadar pikirku. Bagaimana dengan para penguasa yang semakin tak peduli juga.
Bumi ini menyediakan semua kebutuhan manusia, namun tidak untuk kerakusannya
-mahatma gandhi-
Posting Komentar