panas jakarta tak pernah menyurutkan semangat siapapun yang mencoba mengais rejeki untuk memenuhi nafsu makan yang diberikan tuhan. suara kipas angin disetiap petak rumah membuat alunan irama tersendiri dalam menyelesaikan tugasnya dalam mendinginkan, terutama dalam mendinginkan otak manusia "barangkali". candaan hatiku hari ini sempat membuat tawa gelak kegembiraan dalam irama panasnya jakarta.
iya jakarta! dalam beberapa bulan ini aku telah ditelan oleh pekat nya polusi jakarta, tak elak banyak orang beringsut-ingsut dengan muka yang menyeramkan selalu lalu lalang dikota ini. kota ini sudah penuh sesak jejal orang, namun tak pernah menyurutkan derak langkah ini dalam menjalankan setiap hentak panjangnya di tanah untuk menyusuri gang-gang sempit yang beberapa bulan ini kulalui untuk memperlihatkan bahwa aku punya kertas yang cukup untuk menghidupiku!.katanya aku manusia yang idealis yang dibentuk dalam sebuah kampus yang mengatasnamakan mencari ilmu untuk suplemen otak? namun nyatanya aku masih takut hidup tanpa ijazah dari sekolah kerakyatan itu..
setiap koyakan polusi dan tak sehatnya matahari jakarta setiap pagi kutemui lebih "banyaknya" tukang sampah menarik-narik gerobaknya daripada manusia-manusia yang katanya lebih banyak uang yang mau berjalan atau sekedar menikmati udara pagi agar tak menyumbang banyak polusi (lagi) di jakarta. setiap pagi kutemui orang bergegas seakan mereka akan dimakan waktu atau kehabisan waktu dalam beberapa detik untuk meneriaki setiap jalan yang dilaluinya agar tidak terkena tumpukan manusia-manusia yang berjejal menginjak-nginjak aspal dengan ban karetnya!.
jakarta! jakarta yang mengingatkanku akan kerinduan angin sepoi-sepoi didesaku nan jauh disana. jakarta mengingatkan akan bersyukurnya aku bisa tinggal ditanah yang luas milik orang tuaku dengan lebat nya pepohonan buah yang bisa dimakan sepuasnya. jakarta mengingatkanku akan kerinduan hamparan sawahnya Bapak dan gubuk kecil ditengahnya dengan makan siang lodeh dan ikan asin yang sungguh nikmat. jakarta mengingatkanku akan keramahan tetangga-tetangga rumahku didesa yang saling menyapa dan bercengkrama dipetang ketika lampu padam bergilir.
jakarta! kota dengan apapun tersedia, bentuk makanan apapun tersedia, hiburan segala jenis fashion tersedia, kemewahan jenis showroom mobil terhampar! namun kesederhanaan kebahagiaan tak terliput oleh mata, sulit ditemui dengan hati. sulit menemui keseimbangan berbalas senyuman kaum bawah!. "sudah seperti kutukan saja kota ini!" gerutuku dalam teriakan-teriakan yang tertelan bisingnya kipas angin malam ini. sebuah penjajahan atas diri sendiri terjebak dalam tempurung-tempurung kesesakan yang kecil diantara luasnya daratan Indonesia hijaunya Indonesia, maha surganya Indonesia!. jakarta bukan cerminan indahnya alam Indonesia, ramahnya orang Indonesia, toleransi empati orang Indonesia!
semakin banyak terkotak-kotak dalam kota ini semakin banyak orang bangsa ini meneriakkan anjuran kebaikan namun tak mau keluar dari zona kenyamanannya. hidup seperti dalam kandang yang diikat dalam tumpukan-tumpukan jerami penuh kotoran ayam tanpa matahari dan tanpa makanan, mungkin itu gambaran jakarta sekarang, dalam mesin waktu aku tidak ingin melihat mas depan beberapa tahun lagi jakarta seperti apa namun aku ingin kembali ke jakarta 100 tahun yang lalu, 100 tahun dalam kerangkeng penjajah namun masih ramah lingkunganya, hijaunya, bersihnya, kebahagiaan, daripada berebut menghirup udara polusi dimasa kini yang terjajah oleh pekatnya polusi mobil yang tak peduli!
Posting Komentar