Jeda
Semua
orang butuh jeda, ya jeda! Sekedar untuk menyadari bahwa dia bisa menghirup udara
dengan dalam-dalam dan betapa nikmatnya itu. Setiap orang butuh berhenti
sebentar untuk melihat dia sudah sampai mana, bukan untuk terus lari kedepan
tak berujung.
Tak
berujung yang terlalu dalam dan semakin gelap tanpa berjeda bahwa sesungguhnya
tak berujung itu hanyalah ilusi semata, ilusi sang penguasa hati sang raja hawa
nafsu yang gelap mata. Ya, semua orang mempunyai raja hawa nafsu yang mungkin
tingkat kerajaannya berbeda-beda.
Aku
pun tak tahu kenapa jeda begitu berharga malam ini, sekedar melepas dan
menyadari bahwa semua baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikawatirkan
berlebihan. Bukankah kita lahir tak sama? Sang kembar pun lahir tidak pada jam
yang sama bahkan telur yang sama pun melahirkan insan yang begitu berbeda. Mengapa
kamu merasa bahwa semua harus disamakan?
Pikiranku
kembali tenang dan menemukan jeda karena sang belahan hati ikut menentang
keganasan keterburuanhawa nafsu yang menginginkan semua serba idealis “tertata”.
Semua raga jiwa menginginkan semua tersedia tanpa terbata-bata.
Aku
sadar akan semuanya butuh jeda, aku ingin mendengarkan suara angin berhembus
pelan ditelinga serta suara daun-daun saling menari dengan suara merdu
hijaunya. Bau segar daun dan air yang tenang dan suara sepi yang memberi jeda
bahwa kehidupan tak haruslah terburu-buru.
Hiduplah
bahagia apapun itu, semua tak sama dan tak harus disamakan. Biarkan mereka yang
sudah terbang tinggi sementara kau belajar berjalan. Berjalan pelan-pelan dan
terus berjuang tanpa mengeluh bahwa semua butuh perjalanan. Serta kita tidak
tahu jalan apa yang kita lalui.
Pepatah
kuno selalu memberitahu bahwa perjalanan tidak mudah dan semua bisa dilalui
dengan ketekunan dan keiklasan untuk bahagia. Sang pemilik hidup selalu
mengajarkan tidak bolehnya putus asa.
Dengan
jeda kuterima bahwa semua ada sesuai dengan jalannya. Tidak ada yang salah
tidak ada yang perlu dikesalkan. Meski jiwa di ujung jari pengambil jiwa maka
kamu akan terus berjalan tak peduli sudah masih berjalan atau sudah bisa
terbang.
Mungkin
“jeda” kali ini sangat menenteramkan bahwa sadar aku diposisi diambang jurang
dengan keterburuan kaki untuksegera melangkah
melompat.
Posting Komentar