Sabtu, 18 Maret 2017

Jeda

Semua orang butuh jeda, ya jeda! Sekedar untuk menyadari bahwa dia bisa menghirup udara dengan dalam-dalam dan betapa nikmatnya itu. Setiap orang butuh berhenti sebentar untuk melihat dia sudah sampai mana, bukan untuk terus lari kedepan tak berujung.

Tak berujung yang terlalu dalam dan semakin gelap tanpa berjeda bahwa sesungguhnya tak berujung itu hanyalah ilusi semata, ilusi sang penguasa hati sang raja hawa nafsu yang gelap mata. Ya, semua orang mempunyai raja hawa nafsu yang mungkin tingkat kerajaannya berbeda-beda.

Aku pun tak tahu kenapa jeda begitu berharga malam ini, sekedar melepas dan menyadari bahwa semua baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikawatirkan berlebihan. Bukankah kita lahir tak sama? Sang kembar pun lahir tidak pada jam yang sama bahkan telur yang sama pun melahirkan insan yang begitu berbeda. Mengapa kamu merasa bahwa semua harus disamakan?

Pikiranku kembali tenang dan menemukan jeda karena sang belahan hati ikut menentang keganasan keterburuanhawa nafsu yang menginginkan semua serba idealis “tertata”. Semua raga jiwa menginginkan semua tersedia tanpa terbata-bata.

Aku sadar akan semuanya butuh jeda, aku ingin mendengarkan suara angin berhembus pelan ditelinga serta suara daun-daun saling menari dengan suara merdu hijaunya. Bau segar daun dan air yang tenang dan suara sepi yang memberi jeda bahwa kehidupan tak haruslah terburu-buru.

Hiduplah bahagia apapun itu, semua tak sama dan tak harus disamakan. Biarkan mereka yang sudah terbang tinggi sementara kau belajar berjalan. Berjalan pelan-pelan dan terus berjuang tanpa mengeluh bahwa semua butuh perjalanan. Serta kita tidak tahu jalan apa yang kita lalui.

Pepatah kuno selalu memberitahu bahwa perjalanan tidak mudah dan semua bisa dilalui dengan ketekunan dan keiklasan untuk bahagia. Sang pemilik hidup selalu mengajarkan tidak bolehnya putus asa.

Dengan jeda kuterima bahwa semua ada sesuai dengan jalannya. Tidak ada yang salah tidak ada yang perlu dikesalkan. Meski jiwa di ujung jari pengambil jiwa maka kamu akan terus berjalan tak peduli sudah masih berjalan atau sudah bisa terbang.


Mungkin “jeda” kali ini sangat menenteramkan bahwa sadar aku diposisi diambang jurang dengan keterburuan kaki untuksegera  melangkah melompat.

Posting Komentar