Joker

Minggu, 06 Oktober 2019




Joker
Film Joker sudah tayang hampir seminggu, semua orang membicarakannya. Diriku juga tak melewatkan untuk menonton film itu yang sudah geger seantero jagad dunia perfilman hollywood. Sore itu akhirnya aku memutuskan beli tiket via online, langsung ku kontak suamiku untuk janjian bertemu di salah satu bioskop yang biasa tempat kami nonton film, karena hari kerja otomatis aku juga berangkat sendiri naik gojek, karena tidak memungkinkan naik mobil pas pulang kerja pasti macet. Benar tebakanku, meski naik gojek aja waktu sampai pas dengan jam tayang film tersebut karena di jalan macet meski naik motor. 


Joker
Sesudah selesai nonton aku masih merasakan sesuatu yang tidak enak dihati, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya terbawa sesuatu terselimuti kabut dan chaos-nya kota Gotham. Sungguh luar biasa akting Joaquin Phoneix memerankan tokoh Joker. Kalau biasanya sudah berekspektasi akan film hero atau pahlawan karena identik dengan musuhnya Batman sama sekali salah, karena film ini tidak ada film hero-heronya ala film-film DC atau Marvel. 

Joker
Digambarkan sebagai Arthut Fleck, anak adopsi hasil abusing ibunya pada waktu kecilnya sehingga mengalami cedera otak dan itu menjadi punya gangguan kejiwaan yang serius. Dengan latar belakang kemiskinan, perundungan atau bullying semakin lengkaplah penderitaan Joker. 

Joker
Disitu kadang kita bisa melihat dalamnya kegelapan hati manusia, dengan segala kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi dan membentuk pribadi anak, akan menciptakan monster trauma. Sebagai manusia juga kita akan menciptakan pertahanan diri, namun untuk mencoba pertama untuk memepertahankan diri biasanya sanagt sulit, sehingga misal sudah melewati first defence selanjutnya akan lebih mudah untuk bertahan dan menjadi pelampiasan akibat trauma-trauma bulllying yang kita terima. 

Panjang banget sih rasanya, filmnya benar-benar mengangkat tentang issue mental illness, bullying, kesenjangan sosial masyarakat. Kebanyakan masyarakat tidak peduli dan mencibir orang-orang depresi dengan gangguan jiwa, yang ada malah mencibir, membulinya. Gini, maksudnya memang kebanyakan orang itu lahir tanpa coretan, selain genetik lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana kita terbentuk, bagaimana perilaku kita. Joker di gambarkan juga sebagai orang baik dengan kehidupan normalnya yang tidak neko-neko hanya memang gangguan otaknya membuatnya aneh yang kadang memang membuat orang disekitarnya takut dan menolak karena memang kita tidak berusaha mendekatinya, merangkulnya, membantunya untuk sembuh dan diterima dengan biasa oleh lingkungan sekitar kita. 

Diluar sana banyak yang bilang dia jahat karena orang baik yang tersakiti, memang benar juga dia berusaha sekali hidup normal, dia berusaha sekali menghiraukan penyakit jiwanya, dia berusaha untuk mengabaikan perasaannya yang terabaikan. Hingga akhirnya meledaklah seperti bom atom. Merasa dia bisa melawan dan membuatnya tidak menyesal karena yang dia bunuh orang-orang yang jahat padanya, sampai suatu scene dia melepaskan temannya yang selalu baik padanya. Pada poin ini dia benar-benar masih menggunakan hatinya, menahan rasa jahatnya. 

Namun bila film Joker untuk excuse kriminalitas aku rasa big no, karena diluar sana juga banyak orang yang sudah berniat jahat kepada yang baik sekalipun, seperti dalam bukku Sapiens karya Yuval Noah Hariri, dalam individu kita itu bertindak sama dengan hewan, yang membedakan kita dengan hewan hanya masalah kita bisa lebih berkumpul dengan tatanana masyarakat yang lebih besar. 

Masalah bullying memang menjadi concern di dunia ini, meski perundungan dari dulu sudah ada, dan sekarang pun masih sangat exist baik di instasi sekolah, di lingkungan sekitar kita. Kita tetap harus concern dan menyebarkan luas anti bullying terhadap anak kita kepada siapapun, yang menajdi masalah biasanya pembuli juga mempunyai masalah serius kenapa dia bisa bertindak seperti itu, bullying selain masalah taruma dan menciptakan pembuli lagi dari hasil korban, juga bullying itu semata-semata karena masalah kekuasaan diri. Kekuasaan rasa mendominasi hampir ada di seluruh watak manusia, merasa paling kuat dan bisa menindas paling lemah. 

Ya begitualah pandanganku tentang film Joker, dari sinematografinya bagus banget, cerita, akting dan pesan. Maka dari itu film ini diberi rating D17+ dimana anak-anak dibawah itu harus pengawasan ketat orang tuanya tidak boleh menonton, umur 15 keatas bolehlah namun harus ada ruang diskusi untuk mendiskusikan adegan-adegan dan moral story didalamnya, karena obanyak adegan-adegan yang cukup brutal yang mungkin sama dengan adegan kehidupan nyata, buka adegan ala film John Wick yang seperti diada-adakan. Apalagi banyak sekali di twitter para netizen mengeluhkan masih banyak orangtua yang membawa anak diabwah 10 tahun bahkan balita, aku tidak habis fikir bagaimana pikiran orangtua tersebut, apalagi misal setelah memasuki bioskop dan ada beberapa adegan kejam masih tidak keluar mengajak anaknya keluar. 

Meski didalmnya banyak adegan ala-ala stand up comedy bukan berarti lucu, sama sekali tidak ada kelucuan dalam film tersebut, semua filmnya menggambarkan sebuah kesuraman hidup Joker, kota Gotham. Bahkan untuk tertwa nyengir aja rasanya terlalu dark di dalam hati. 

Itulah sekilas selayang pandang ku, menjadi perenungan kita semua, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita harus peduli kepada semua orang. Masalah kejiwaan seseorang kita harus berusaha membantunya keluar dari dark circlenya. Dan itu harus diajarkan kepada semua anak-anak kita bagaimana kita harus memperlkaukan orang lain dengan baik. 

Bravo untuk Joaquin Phoenix atas aktingnya, semoga peran tersebut tidak mempengaruhinya dalam kehidupan nyata. Semoga dia juga selalu baik-baik saja. 
Read More

My Journal

Sabtu, 05 Oktober 2019

       source pict from pinterest shihoriobata
Ngomongin jurnal, blog ini seperti tempat sampah pikiranku, mungkin ini yang disebut jurnal ya tapi aku sekarang akan berusaha menuliskannya. Mungkin aku akan beli buku kusus jurnal atau akan menulis sampah-sampahku di sini.

Curhatan-curthatan lebih tepatnya uneg-uneg yaa, kadang memang harus dikeluarkan meski itu ludah busuk sekalipun unutk kesehatan fikianku.

Namun mestinya juga terbatas sih, atau enggak tahu akan keceplosan ataua gimana hahahahaha
Read More

Secuil kisah film The sisters and brothers



The Sisters and Brothers...

Betapa hangatnya sebuah keluarga, kakak beradik yang menjadi pembunuh bayaran di "wild west" Amerika. Dalam sebuah perjalanan biasanya kita akan menemukan diri kita sendiri. The sisters and brothers. Film ini menampilkan sebuah ikatan hate and love dalam hubungan sebuah saudara. John C. Reily dan Joaquin Phoenix sangat bagus memerankan peran ini. 

Hubungan saudara umumnya memang hate and love relationship, bahkan beradu pendapat berujung adu fisik kerap kita alami sesama saudara kita. Namun terselip cinta yang hangat diantara selama persaudaraan itu tidak meninggalkan trauma yang berat. 

Meski kejamnya wild west koboi dengan seting tahun 1880 an film ini menampilkan masa-masa pencari tambang emas di Amerika. Mereka mempunyai masa kecil yang buruk, digambarkan mempunyai ayah pemabuk, dan kekerasan menjadi sehari hari mereka. 

Namun kekuatan saudara tetap membuat mereka saling melindungi dan menjaga dalam kejamnya kehidupan koboi. Mereka dalam perjalanannya mencari seorang ahli kimia dan satu orang detektif yang mencari ahli kimia tersebut. Namun sang detektif John Morris yang diperankan Jake Gylenhall menjadi pelindungnya setelah mendengarkan Herman Warm (Riz Ahmed) sang ahli kimia dengan segala ide keseimbangan masyarakatnya yang tidak bar-bar. 

Setelah berhari-hari akhirnya Eli dan Charlie (yang diperankan oleh John C. Reily dan Joaquin Phoenix) mereka menemukan atau bertemu bukan malah membunuh sang ahli kimia namun malah berteman bersama-sama mencari emas dengan sang ahli kimia. 

Dalam scene ini sangat menyenangkan seperti 4 kawan yang bahagia dalam perjalananya dalam mencari sesuai yang sama. Sangat harmonis dan saling membantu bahu membahu dalam harmoni. Namun tidak berselang lama karena keserakahan Charlie dia menuangkan cairan berbahaya untuk mencari emas dan menganai mereka semua yang akhirnya Moris dan Warm mati. dan tentu saja Charlie tangannya sampai di amputasi. 

Oh iya dalam film ini Eli sebagai kakak Charlie adalah seorang yang lembut hatinya dan penyayang, betapa dia selalu memperhatikan dan mengkawatirkan adiknya Charlie. Inilah kehangatan dalam film ini betapa kakak sangat menyayangi adiknya meskipun menyebutkan kata sayang dalam film ini canggung karena mereka digambarkan dua laki-laki paruh baya, dengan profesi pembunuh bayaran dan seting dalam liarnya barat Amerika. 

Persahabatan dengan Moris dan Warm juga menjadi scene yang hangat bahwa kadang manusia itu semuanya baik namun kadang memang dituntut jadi jahat dalam versi orang yang berbeda-beda.
Sumpah film ini bikin "ati anget". 

Charlie digambarkan seorang adik yang dengan kekanakannya, impulsif, sayang, tapi jaim untuk selalu bertindak sayang kepada kakaknya. Eli digambarkan sebagai kakak yang baik, orang yang baik, terdepan melindungi saudaranya dan orang yang sudah bersamanya. 

Sampai aku tidak bisa menuliskannya apa yang kurasakan terlalu banyak dan bingung menuangkan dalam kata-kata, hehehehe. Pengen mengeluarkannya sampai berantakan loncat sana sini alurnya hehehe. Tapi satu kata untuk film ini "Hangat". Apalagi diakhir-akhir film mereka akhirnya kembali kerumah ibunya dan menjadi seperti anak kecil lagi dipeluk, dimasakin, dimandiin ibunya. Hangat banget kan rasanya betapa cinta ibu itu tak terbatas oleh sikapmu, cinta ibu itu tak bersyarat. Hangat banget deh rasanya di hati. 

Tidak semua dalam hidup ini tentang putih dan hitam, kadang kita hanya melihat sebenatar dalam seseorang dan menilainya dan membawanya sampai mati. Kita harus terus mau dekat dan melihat ke setiap orang, ke relungnya. Apalagi zaman internet seperti sekarang ini betapa kita hanya melihat sebagian kecil hidupnya dan membawa penilaian itu kemana2. 

Read More

Me Find Her



This some of words is dedicated to someone close to us, but I really can't show who she is. 

I know her long time ago, I was didn't much expected about her, I honestly have a little bad expectation about her. But time by time i really sorry for my bad expectation about you. You have a kinda a good hearth, how you really love your son. 

Why Iam so have bad expectation about her because some of her family is about talk about her behind her, and its really bad talk. But my feeling is wrong.

Betapa mengenal seseorang itu penting, mengenal secara personal, sering ngobrol dan interaksi. Ya, itu akan mengenal orang itu dalam kebaikannya atau keburukannya. Semua orang punya masa lalu semua orang punya watak, semua orang punya hitam dan putih dalam dirinya. 

Tapi ternyata "hoax" dan gosip bisa menyebabkan orang benci sebelum mengenal orang itu dengan baik. Hoax dan gosip meski ada kebenarannya atau tidak kebenaran bila disebarkan dan diperdengarkan terus menerus akan membuat lama-lama membenci bila yang disebarkan hoax dan gosip tentang orang itu adalah kebencian. 

Itu benar-benar seperti batu sekeras apapun akan hancur oleh air bila disiram terus menerus. Betapa kebencian dan tafsir tanpa bertatap mata dan berbicara atau ngobrol dengan orangnya akan terus tumbuh kebencian dengan orang yang dibenci tersebut. 

Balik lagi dengan perasaanku, dulu aku sangat berhati hati padanya, just say hello istilahnya sambil bernegatif thinking. Lama-lama berganti tahun aku bisa merasakan ketulusannya. Maafkan aku. Betapa orang dikeluargamu banyak menyebarkan sesuatu yang tidak mereka kenal sehingga menumbuhkan kebencian-kebencian baru kepada orang baru. 

Betapa tidak mengenalnya mereka, "dia" hanya seorang sendiri dan ingin berbahagia dengan caranya sendiri. Itu benar-benar hak nya. Iam so sorry for my bad expectation about you. 

Ya meski setiap orang punya sisi jeleknya, tapi sejauh ini akan memaklumi, meski waktu dulu seperti kesal. Ya meski kalo di ingat masih kesal. hehehehe. Mungkin aku salah satu orang yang tidak kamu perhitungkan, it's ok selama kamu benar-benar memperhatikan orang yang kamu cintai. Iam so sorry if there something I hurt you. Maaf untuk kehati-hatianku, karena aku tipikal yang susah banget membuka diri di awal dan merasa akan tersakiti. Actually she have an angel hearth. Maybe Iam just wrong to understimate her love. 

It was okay if everybody have their boundaries, to set up their happiness to pursue their happy life, to love someone in their life. We should not be selfish just think about our own happiness, to judge their personal stuff of happiness. Everybody have their own way and absolutely their own struggle. Happy and problems is one unity in life, it can't be separate and really we can't choose one of them. 


Read More