Sebuah Puisi Siang Hari

Senin, 04 November 2019

source pict: IG : claireonline

Beragama? atau berkehidupan? 
Kadang memang orang yang beragama beberapa kulihat melalaikan berkehidupannya. Bukan! bukan karena agamanya aku rasa memang orangnya salah beragamanya, aku pun bukan orang yang beragama dengan baik tapi aku bisa melihatnya beragama namun cara berkehidupannya tidak sesuai dengan sebuah kehati manusiaannya.

Aku takut mengajarkan agama yang salah kepada anakku, bukan tentang agama tertentu tapi beragama dan melalaikan berkehidupan kepada sesama mahkluk semesta di alam ini.  Tapi memang ilmu beragama dan berkehidupanku memang sangat kecil. 

Merasa resah oleh beberapa orang yang beragama tapi rasa perilakunya menohok orang-orang yang berusaha berkehidupan baik tanpa memandang bahwa orang itu beragama atau tidak, benar aku agak bebas masalah beragama. Aku berusaha benar-benar tidak melihat orang itu beragama atau tidak beragama sekalipun selama orang itu baik, baik kepada sesama manusia, kepada hewan, kepada tumbuhan kepada bumi dan kepada semesta ini. 

Aku tidak akan melihat statusnya aku hanya melihat bagaimana orang itu melakukan berkehidupan dengan sangat baik. Aku bukan orang yang sempurna, baik dalam beragama dan berkehidupan aku hanya ingin melihat semua orang bisa senyum tulus atas kehadiran kita, aku hanya ingin kedamaian menyelimuti ketika kita bercengkrama. 

Sedih menyelimuti ketika kita bersaudara antar manusia tapi dibatasi oleh keagamaan kita, berkehidupan kita jadi rusak terkikis satu demi satu merasa paling benar atas kehendak kepala kita. Setiap kepala kehidupan berhak mendapatkan sesuatu yang tenang dalam dirinya bahkan hewan dan tumbuhan sekalipun, kita harus hidup dalam harmoni, bahu membahu menyelamatkan berkehidupan kita di bumi ini. 

Sebelum kalian mengejar surga setelah mati aku harap kita menciptakan surga bagi sesama, keharmonisan antar kehidupan untuk melanjutkan kehidupan yang surgawi tanpa kebencian, tanpa saling menjatuhkan tanpa saling bertuduh menjadi yang paling sempurna dan menguasai satu sama lain. 

Negara seharusnya menjadi penanggung jawab atas setiap kepala kehidupan bukan malah memenjarakan kehidupan lain dan merasa diatas negara kehidupan yang lain. Ah sudahlah, rasanya capek sekali setiap antar individu saling menjatuhkan atas beragama dan berkehidupan dengan semena-mena. 

Anakku semoga hatimu halus namun kuat seperti baja, yang dapat melembutkan setiap pertemuan-pertemuan dengan garis-garis kehidupan
Anakku bertahanlah dan jadilah untuk tetap kuat meski arus menarikmu dengan kuat
Anakku suatu saat kau akan menemukan jalanmu sendiri, tapi tetap bawalah harapanku di hatimu
Harapan seorang ibu yang hanya ingin keharmonisan antar kehidupan
Haluskan perangraimu tapi jangan kau beri celah orang yang mau merusak hatimu 
Anakku aku mencintaimu seperti aku ingin bumi ini menajdi sehat
Sehat seperti sebelum ada manusia yang merusaknya dengan sangat cepat
Anakku cintailah setiap kehidupan yang memberimu kehidupan
Tuhan melembutkan hatimu untuk sesama, tangan Tuhan itu lembut
Bukan bergerigi yang menyakiti setiap yang tersentuhi
Anakku berbahagialah selalu atas karunia Tuhan yang diberikan kepadamu



Posting Komentar