Lama aku belajar menghargai orang, lama untukku belajar mengalah meski masih suka keras kepala. Ketidakgampngan percaya ku pada orang meski orang terdekat menjadi sebuah kerikil sendiri di hidupku. Masa kecil yang ditinggal ibu menjadi TKW mungkin membentukku keras dari kecil. Susah untuk percaya sama orang, susah untuk menjadi dekat dengan orang, susah percaya, susah menghargai. Kadang sampai sekarangpun aku masih suka mengutuk orang-orang yang cengeng, meski sebenrnya aku sendiri sangat sangat cengeng. Sedari kecil memutuskan semua sendiri karena lacking of parenting dari orangtua, yang notabene bapa ibuku bukan orang pendidikan dan berasal dari pelosok kampung di Jawa Timur, bukan mengecilkan mereka namun memang silsilah keluarga dari kakek nenek pun belum pernah ada yang mengenyam pemdidikan sampai perguruan tinggi, satu-satunya orang yang kuliah hanya diriku dari lima bersaudara.
Ibuku harus menajdi TKW ketika aku kecil menjadi sebuah trauma yang tidak kusadari, bagaimana ku masih ingat rasanya berjuang dituntut menajdi lebih dewasa dari usiaku sebenarnya, kelas 1 SD sudah mencuci baju sendiri, setrika sendiri terkadang memasak sendiri untukku dan bapakku. Mana mungkin hal itu dilakukan oleh anakku saat ini.
Rasa sendiri yang masih kadang ku ingat, ketika sakit demam menjangkitiku tidak ada ibu yang memelukku ditengah malam ketika aku bangun kepanasan dan sakit yang terasa lama ketika malam. Masih teringat easa-rasa tidak enak itu sampai saat ini. Menangis sendiri ketika masalah datang kepadaku dari kecil. Tidak bisa bercerita, mereka mungkin melihatku hanya bermain dan bermain. Namun kadang kesepian menjangkiti karena tak ada ibu disampingku.
Ketika ibu memutuskan sudah tidak menjadi TKW diusiaku pas SMP kelas 1, aku SMP menjadi anak -yang melawan ibuku, aku merasa bahwa selama ini merasa sendiri dan tidak suka di atur-atur, dan dalam hati menyalahkan kenapa 6 tahun ini kamu meninggalkan aku? anak seumur itu mana mengerti arti mencari uang dan menyambung hidup. Meski ku baru tau juga akalau ibu sedang menelfon dari luar negeri dan tak dapat bicara denganku beliau sangat sedih dan galau.
Ya, aku baru tau itu! beliau mencintaiku, aku merasa dicintai, dans ebagai orang yang umur 30 tahun tentu saja aku tau perjuangan menyambung hidup dan memilih menjadi working mom tidak mudah meski kehidupan mengoyaknya untuk mecari peruntungan dan uang! Semua trauma, latar belakang pendidikan keluarga yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan anak menjadikan anak-anak seumuranku dulu menajdi lebih dewasa. Sampai aku kuliahpun rasanya though akan diriku begitu berasa, aku yang tidak butuh teman, aku yang tidak bisa percaya dengan orang lain sampai sekrang, aku yang tidak bisa seujujurnya kepada orang lain selain suamiku sendiri.
Kenangan-kengan kelam dari rasa tidak nyaman menjadi kesepian terus menghantuiku sampai saat ini, aku menajdi orang yang takut kesepian, haus akan kasih sayang dan menjadi orang yang sedikit curigaan. latar belakang yang menjadikanku seperti itu.
Dahulu aku sangat iri kepada keluarga yang utuh, harmonis, bapaknya membimbinng anaknya dengan benar, menyanyangi, kontak fisik antar keluarga yang hangat. Aku kecil sendiri, kakak-kakakku sudah dewasa dimana jarak terlampau jauh dari 10-21 tahum, bapak pendiam otoriter dan cuek, Bayangkan kan? hehehehe, ya itu yang kuarasakan sampai saat ini meski hubunganku dengan ibu sudah baik sejak aku lulus SMA, aku sudah tak terlalu berani menbantah perkataannya, sejak aku melahirkan rasa hormat semakin terbentuk. Momen menikah dan melahirkan serta hidup merantau menajdikanku merasakan betapa beratnya menajdi seorang ibu.
Mencintai tanpa sarat sepenuhnya kepada anak, berkorban sepenuhnya untuk anak, serta kerasnya tamparan-tamparan kehidupan setelah menika, yaitu mandiri seutuhnya atas hidup kita sendiri. Semua orang berhak bahagia, semoga kebahagiaan selalu tercurahkan kepada ibuku yang sekarang suadah mulai sepuh dan aku belum bisa membahgiakan beliau sepenuhnya, semoga aku menajdi ibu yang bahagia untuk anakku. semoga aku tidak mencorat-coret trauma di kehidupan anakku, menajdi orangtua tanggung jawab nya sangat berat untuk menciptkan keturunan yang sepenuhnya puas bahagia apapun keadaanya.
Dari aku yang belajar untuk mengalah, tidak keras kepala, mengerti perasaan pasanganku dan berusaha mersaakan di kaki nya, Ah malam sudah malam sekali sampai suara hatikupun terdengar jauh sekali menajdi tulisan ini.
Depok, 9 Desember 2021
Posting Komentar