
Ketika senja menyeruak dari tempat tidurnya yang dia tempati hampir 23 jam lebih, dan dia hanya bangun kurang dari setengah jam untuk menguap dan kembali tidur dalam buaian malam. Namun senja sore ini tidak terlalu terburu-buru untuk segera tidur lagi, kali ini dia sangat berseri-seri dalm siluet orange nya yang cerah. Kulihat dianak tangga penantian mungkin aku menyebutnya, kulihat seorang anak kecil yang berumur sekitar 3 tahunan yang sedang duduk bersama seorang laki-laki, yang kemungkinan besar merupakan ayahnya dalam dugaanku. anak itu terus memandang langit sore yang indah bersama ayahya yang tenggelam dalam pandangan mereka.
Walau dalam cerahnya senja sore dipegunungan kelud tak cukup membohongiku bahwa kedua mahluk yang bernama manusia yang sedang duduk ditangga menyembunyikan wajah penantian penuh harap. Dalam pandangan kepada mereka tersimpan beribu tanya dalam sedikit benakku untuk sekedar tanya apa yang mereka pikirkan dalam duduk diamnya. Akupun tak berani bertanya apa yang mereka nikmati dalam senja yang begitu ceria untuk ukuran musim penghujan yang aku risaukan dalam jajaran dalam perjalanan jalan-jalan ke gunung setengah bukit hari itu.
Dalam jauhnya sorot mata pandangan kepada mereka aku hanya juga duduk terdiam menepi pemandangan yang mungkin bisa sangat aku nikmati suasanannya kali ini. Ya,,sebuah jawab yang menduga dalam tanyaku dalam jerat lubuk hati sore ini aku menduga, mereka menunggu seorang istri dan ibu yang sangat mereka rindukan cantik dan dalam kasih sayang lembut seorang ibu dan seorang istri. Seperti senja yang sangat lembut dan begitu harum sejuk untuk dilihat dan dirasakan kasih sayangnya kepada semua mahluk yang merasakan kehadirannya setiap hari dan tanpa kelelahan meski dia hanya muncul seperti sebuah kilatan kehidupan yang sangat singkat.
Lima menit dalam pandangan mereka seperti sangat mereka nikmati dalam sebuah perjalanan relungan yang sangat berharga untuk sebuah sorotan yang begitu naïf dari kedua mata anak berumur yang seharusnya dalam pancaran memanja dalam pangkuan lembutnya seorang ibu. Seiring dalam pikirku itu, tangan ayahnya memeluknya dengan lembut hangat menikmati keadaan yang begitu sepia sore itu dianak tangga yang seperti tembok besar cina namun dalam kecilnya.
Kudengar sayu-sayu anak itu berbicara dan bertanya kepada sang ayahnya dan kulihat tangannya menunjuk sebuah burung yang melintas dalam siluet senja yang seakan mengerlip kepadanya. Kulihat senyum sekilas dalam kerutan bibir yang sedari diam menikmati masa yang seakan diam yang dinikmati ayahnya. Kudengar dalam kejauhan jarak telinga yang seakan ingin mendekat sekedar ingin tahu apa yang akan dikatakan seorang ayah kepada anaknya yang masih dalam ukuran belia dan mampu untuk dicernanya. Namun tak sampai telinga ini mendengar apa yang meraka percakapkan dalam teduhnya pandangan mereka kulihat bibirnya ayahnya tertutup dan kembali memandangi senja didepannya. Sang anak pun tersenyum penuh harap yang terlukis dalam wajahnya. Ya senyum itu senyum naïf yang mengikat menggoda yang sangat menarikku dalam ketertarikan yang sangat berlebihan dalam jemputan dari dalam hati dan pikiran yang berirama.
Tak terasa senjapun sudah mulai terlihat dalam kantuknya. Seakan tahu kami sedang memandangnya penuh harap, senjapun meninggalkan seribu sorot merah yang sangat indah dalam hiruk pikuk awan yang mengiringnya. Dalam keterperanjatanku yang menatap ayah dan anak tersebut aku pun berdiri mengambil sedikit langkah untuk mengambil sebuah gambar dalam kamera dari telephone genggam bututku sebelum mereka beranjak meninggalkan anak tangga penantian tersebut, aku menyebutnya.
Selang dalam hitungan detik ayah anak itu mengajak putrinya beranjak dari tempat itu dengan membungkukkan tubuhnya sedikit kebawah sesuai tinngi gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersenyum kepada sang ayah dan kembali melihat tinggalan sorotan senja terakhir hari itu, dan sedikit mengernyitkan sudut bibirnya kepada sang senja. Meraka pun beranjak dari duduk tangga itu, masih dalam penasaranku yang terseok oleh suasana, kupandang mereka sampai hilang dalam belokan anak tangga yang menuju kebawah dan segera meninggalkan tangga penantian dan seperti dalam sorotnya yang terakhir tadi berharap bisa datang.
Sejenak dalam berpikir menuju kesebuah perasaan yang haru dalam sesak penasaran dan tersenyum dalam tinggalan senja yang menuju keperaduan tidurnya aku hanya bisa menerka dan menebak saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi dalam keadaan sorot pandangan yang begitu hangat, teduh, tenang yang dimiliki oleh gadis itu dan seorang laki-lakinya yang sekiranya seorang ayah dari gadis kecil itu.
Kutiru senyum penuh harap yang iklas dari gadis kecil itu kepada senja yang seakan melambai kepadaku dalam merahnya awannya. Aku segera menuju melewati anak tangga tadi yang diduduki mereka, dan segera melanjutkan keanak tangga lainnya untuk mencapai permukaan anak tangga terakhir dalam jajaran bertingkat itu.
Yogyakarta, 14 maret 2010
Ketika teringat tangga kala itu
Posting Komentar