Kerutan wajah sudah tak terbentung muncul di wajahku, kukira tua dan umur itu hanya angka. Namun tidak ternyata, itu yang sungguh pasti akan terjadi kepada semua makhluk hidup yang bernafas di bumi ini. Kopi kembali membuat otak dan hatiku konslet lagi, pikiran melayang tak tentu arah sambil merayapi kehidupan kehidupan yang sudah kulewati. Bagaimana ku fikir memang manusia tempat derita keinginan dan tak pernah puas. Aku yang belum selesai dengan diriku sendiri, masih memikirkan sejuta keinginan-keinginan dan kekawatiran-kewatiran massa depan yang serasa sudah pasti seperti yang kufikirkan. Padahal itu semua hanya ilusi, hanya sandiwara di dalam otakku, eh, bukan ternyata hanya dalam fikiranku.
Memikirkan anak sudah besar dan bakal meninggalkan diriku saja bisa membuat ibu-ibu seperti diriku nangis, sedih dan galau tak berujung. Belum melihat berita pandemi dan negeri di belahan bumi lain sedang perang. Bukan membandingkan, tapi memikirkan bagaimana diriku, keluargaku di posisi seperti itu, sedangkan bahkan saja sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Siapa diriku yang bila mati pun mungkin tak kan banyak yang melayat sangking hanya pusaran rumah kecil ini pergerakanku!.
Manusia tempat sumber keinginan, maka dari itu penderitaannya tak pernah berakhir, kepuasan, keinginan, hasrat dan hawa nafsu kefanaan ini benar-benar menyiksa seluruh setiap individu manusia. Kuingin mencari hakikat hidupku selain beban di bumi ini apa? apakah aku bisa bermanfaat untuk orang lain? sekedar melepas penderitaan-penderitaan di sekitarku saja apakah aku bisa? selama ini masih hanya ku kejar keinginan diri, uang, yang tak ada habisnya dicari, belum dapat meski raga sudah di galian liang lahat.
Setiap manusia pasti ingin hidupnya bisa berkontribusi meski dalam komunitas terkecil dalam masyarakat, setiap manusia ingin mersasa berarti dan penting, bahkan mungkin sedikit di hormati. Nah, seperti itu saja aku sudah menghakimi setiap orang. Pikiran-pikiran seperti itu sudah seperti benang kusut efek dari kopi yang ku seruput. Ah capek sekali rasanya.
Beberapa waktu lalu ku sudah mendapatkan penyakit pandemi virus yang booming dari 2020 ini, hampir saja mungkin aku mati. Kadang mungkin kalau mati itu jawaban atas semua fikiran-fikiran kekawatiran yang tak berujung begini. Namun mungkin lagi-lagi anak yang membuatku enggan cepat-cepat ketemu Illahi, pede saja saya tidak disiksa di neraka. hehe
Malam begitu panjang bila ku minum secangkir kopi, bahkan bukan kopi murni, kopi sejimpit dan tiga perempat susu saja membuat pikiranku kacau seruwet rambut yang tak pernah keramas. Kapan ku bisa bermanfaat dan selesai dengan diriuku sendiri? kepalaku kembali mendobrak dari efek kafein yang kurang ajar.
Sempat tadi ku berkendara dan bercerita dengan diriku sendiri sembari menyetir mobil mengelilingi kota agar bisa kumaki diriku sendiri. Sekarang sekedar menangis betapa susahnya meski sendiri, tapi himpitan-himpitan kekawatiran atas semua hal begitu tak mengenakkan. Aku berfikir kapan kamu selesai dengan dirimu sendiri hah?? semua impian-impianmu sudah 70 persen sudah terwujud, masih belum bisa aku mengendalikan hawa nafsu fana yang mungkin itu hanya untuk mengimpresi orang lain!, padahal semua itu tak akan dipedulikan orang lain bahkan yang melihat hanya akan menggeser ceritamu dan mengisi dengan cerita masing-masing.
Sampai-sampai kerutan semakin menjadi garis jelas yang tak akan bisa disembuhkan skincare-skincare mahal itu. Buat apa moles fisik dan memikirkan impresi orang lain? tidurlah masih ada hari esok yang harus kau hadapi. Masih panjang bila ku tak mati cepat, masih panjang tanggung jawabmu atas mahkluk kecil bernama anak. Sampai ku berfikir dengan punya anak itu membawanya ke kehidupan yang sengsara di bumi ini, harus menghadapi dan belajar betapa dilahirkan itu tidak enak kalau orangtuamu tidak kaya raya. hahaha
maafkan aku anakku, aku tidak meminta apa-apa darimu, aku hanya berharap sebagai ibu, sebagai orangtua kuingin engkau bahagia dan bahagia aku dan ayahmu menjadi orangtuamu, tidak malu berorangtua kami itu hanya saja harapanku kepada anakku, meski orangtua mana sih yang sempurna, tapi semoga hanya kenangan indah yang menempel di otakmu anakku. Songsonglah kehidpan ini dengan lebih bail, semoga engkau beruntung dunia akhirat, bahagia dunia akhira, serta mendapatkan jodoh yang baik dan selalu memperjuangkanmu didalam setiap tarik nafas kehidupan.
Nah kan serandom itu pikiranku malam ini, gema-gema sepi mengisi jalan-jalan depan rumahku, hawa dingin menyelimuti setiap saja yang sekededar mengengokkan mata keluar, Bulan enggan keluar karena kabut hujan membasahi lantai tanah sore ini. Malam menari seakan pesta tak akan pernah usia untuknya.
Mata keiput ini tak bisa terpejam, ku pandangi wajah mungilnya dan kuciumi seakan itu dopahmine yang menjadi candu otakku dan cintaku.
Posting Komentar