Tak Terjawab!

Minggu, 08 Desember 2013

Mungkin belum banyak buku yang ku baca, mungkin belum banyak perdebatan yang aku temui, mungkin belum banyak aku berfikir lebih banyak lagi, dan dengan seribu kemungkinan yang belum pernah ku ketahui jalani dan rasakan!. 


Selalu dimulai dengan pagi sebuah hari namun kebanyakan orang mungkin akan menjalani dengan hari yang berwarna dan wajarnya selalu dimulai dengan pagi hari, entah dengan perasaan yang enak , tidak enak atau memualkan . Tuhan menciptakan keberagaman atas manusia bahkan hewan, tumbuhan, segala makhluk hidup dan tidak hidup yang diciptakannya. dari perbedaan-perbedaan itu untuk melengkapi harmoni, dan apakah sebenarnya definisi harmoni itu? apakah harmoni itu memang tercipta atas segala bentuknya yang benar-benar berbeda dengan kerasnya masing-masing dan itu harmoni dengan segala kekacauannya? atau dari perbedaan itu tercipta harmoni keselarasan mencari teka-teki perbedaan itu dan menciptakan pendamaian cinta  kasih keterbukaan berbeda namun terbuka lebar untuk saling bergegam dan tercipta keharmonian yang tenang? ah saya masih terbingung-bingung oleh maksud Tuhan, dan memang sepertinya saya belum banyak membaca buku, buku kehidupan, buku kertas, buku maya atau buku-buku berbentuk bayang dalam harmoni didalam bumi ini Tuhan! dan juga harmoni diluar angkasa sana bahkan buku kalbu saya. 


Aku tidak menyalahkan Tuhan dalam menciptakan perbedaan-perbedaan, (warna kulit, agama, uang, suku, ras, negara, keluarga dan masih banyak lagi bahkan sidik jari manusia yang tak pernah sama antara satu sama lainnya!) tapi aku menyalahkan kenapa Tuhan menyempitkan dan tidak membukakan otak-otak yang berbeda itu, tidak melebarkan kesempitan-kesempitan dalam sel-sel otak mereka untuk sejenak (bahkan untuk saya sendiri seperti sekarang ini). kenapa Tuhan tiak memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan perbedaan manusia dan membukakan atau bahkan memberikan win-win solution atas semua perbedaan ini. Oh Tuhan semua menghujatmu dalam segala harmoni bentuk kepekatan kesempitan jiwa mereka (saya), aku tidak ingin beradu jotos sekedar untuk meminta harmoni dan belas kasih pikiran yang terbuka dari mereka, aku hanya ingin solusi yang tidak delusional yang tercipta dari masing-masing bentuk berbeda dan dengan hasil yang berbeda pula mestinya. setidaknya ciptakan satu koneksi komuniaksi yang sama, bahasa yang sama yang bisa dibaca oleh semua mahkluk yang engkau ciptakan, ah kembali bertabrakan dengan besarnya otak yang kau ciptakan tidak sama? isi otak yang tidak sama dalam besar yang sama? kembali lagi bahkan seperti itu berbeda, ah miris aku memikirkan diriku yang tertelan oleh pertanyaan yang sebenarnya tak kumengerti! 
Jadi percuma saja aku berteriak model begini Tuhan? saya tau dan saya masih murung Tuhan! didalam hatiku yang paling kecil kamu menyuruh saya membaca buku lagi Tuhan? ya saya akan melakukannya sampai mungkin saya gila sendiri, dalam pintaku kali ini bukakan jawaban-jawaban yang setidaknya memberikan untuk bisa melihat semuanya ini ada pertanyaan!
Read More

Disemburat Tangga Senja (throwback)

Senin, 02 September 2013



Ketika senja menyeruak dari tempat tidurnya yang dia tempati hampir 23 jam lebih, dan dia hanya bangun kurang dari setengah jam untuk menguap dan kembali tidur dalam buaian malam. Namun senja sore ini tidak terlalu terburu-buru untuk segera tidur lagi, kali ini dia sangat berseri-seri dalm siluet orange nya yang cerah. Kulihat dianak tangga penantian mungkin aku menyebutnya, kulihat seorang anak kecil yang berumur sekitar 3 tahunan yang sedang duduk bersama seorang laki-laki, yang kemungkinan besar merupakan ayahnya dalam dugaanku. anak itu terus memandang langit sore yang indah bersama ayahya yang tenggelam dalam pandangan mereka.

Walau dalam cerahnya senja sore dipegunungan kelud tak cukup membohongiku bahwa kedua mahluk yang bernama manusia yang sedang duduk ditangga menyembunyikan wajah penantian penuh harap. Dalam pandangan kepada mereka tersimpan beribu tanya dalam sedikit benakku untuk sekedar tanya apa yang mereka pikirkan dalam duduk diamnya. Akupun tak berani bertanya apa yang mereka nikmati dalam senja yang begitu ceria untuk ukuran musim penghujan yang aku risaukan dalam jajaran dalam perjalanan jalan-jalan ke gunung setengah bukit hari itu.

Dalam jauhnya sorot mata pandangan kepada mereka aku hanya juga duduk terdiam menepi pemandangan yang mungkin bisa sangat aku nikmati suasanannya kali ini. Ya,,sebuah jawab yang menduga dalam tanyaku dalam jerat lubuk hati sore ini aku menduga, mereka menunggu seorang istri dan ibu yang sangat mereka rindukan cantik dan dalam kasih sayang lembut seorang ibu dan seorang istri. Seperti senja yang sangat lembut dan begitu harum sejuk untuk dilihat dan dirasakan kasih sayangnya kepada semua mahluk yang merasakan kehadirannya setiap hari dan tanpa kelelahan meski dia hanya muncul seperti sebuah kilatan kehidupan yang sangat singkat.

Lima menit dalam pandangan mereka seperti sangat mereka nikmati dalam sebuah perjalanan relungan yang sangat berharga untuk sebuah sorotan yang begitu naïf dari kedua mata anak berumur yang seharusnya dalam pancaran memanja dalam pangkuan lembutnya seorang ibu. Seiring dalam pikirku itu, tangan ayahnya memeluknya dengan lembut hangat menikmati keadaan yang begitu sepia sore itu dianak tangga yang seperti tembok besar cina namun dalam kecilnya.

Kudengar sayu-sayu anak itu berbicara dan bertanya kepada sang ayahnya dan kulihat tangannya menunjuk sebuah burung yang melintas dalam siluet senja yang seakan mengerlip kepadanya. Kulihat senyum sekilas dalam kerutan bibir yang sedari diam menikmati masa yang seakan diam yang dinikmati ayahnya. Kudengar dalam kejauhan jarak telinga yang seakan ingin mendekat sekedar ingin tahu apa yang akan dikatakan seorang ayah kepada anaknya yang masih dalam ukuran belia dan mampu untuk dicernanya. Namun tak sampai telinga ini mendengar apa yang meraka percakapkan dalam teduhnya pandangan mereka kulihat bibirnya ayahnya tertutup dan kembali memandangi senja didepannya. Sang anak pun tersenyum penuh harap yang terlukis dalam wajahnya. Ya senyum itu senyum naïf yang mengikat menggoda yang sangat menarikku dalam ketertarikan yang sangat berlebihan dalam jemputan dari dalam hati dan pikiran yang berirama.

Tak terasa senjapun sudah mulai terlihat dalam kantuknya. Seakan tahu kami sedang memandangnya penuh harap, senjapun meninggalkan seribu sorot merah yang sangat indah dalam hiruk pikuk awan yang mengiringnya. Dalam keterperanjatanku yang menatap ayah dan anak tersebut aku pun berdiri mengambil sedikit langkah untuk mengambil sebuah gambar dalam kamera dari telephone genggam bututku sebelum mereka beranjak meninggalkan anak tangga penantian tersebut, aku menyebutnya.

Selang dalam hitungan detik ayah anak itu mengajak putrinya beranjak dari tempat itu dengan membungkukkan tubuhnya sedikit kebawah sesuai tinngi gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersenyum kepada sang ayah dan kembali melihat tinggalan sorotan senja terakhir hari itu, dan sedikit mengernyitkan sudut bibirnya kepada sang senja. Meraka pun beranjak dari duduk tangga itu, masih dalam penasaranku yang terseok oleh suasana, kupandang mereka sampai hilang dalam belokan anak tangga yang menuju kebawah dan segera meninggalkan tangga penantian dan seperti dalam sorotnya yang terakhir tadi berharap bisa datang.

Sejenak dalam berpikir menuju kesebuah perasaan yang haru dalam sesak penasaran dan tersenyum dalam tinggalan senja yang menuju keperaduan tidurnya aku hanya bisa menerka dan menebak saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi dalam keadaan sorot pandangan yang begitu hangat, teduh, tenang yang dimiliki oleh gadis itu dan seorang laki-lakinya yang sekiranya seorang ayah dari gadis kecil itu.

Kutiru senyum penuh harap yang iklas dari gadis kecil itu kepada senja yang seakan melambai kepadaku dalam merahnya awannya. Aku segera menuju melewati anak tangga tadi yang diduduki mereka, dan segera melanjutkan keanak tangga lainnya untuk mencapai permukaan anak tangga terakhir dalam jajaran bertingkat itu.

Yogyakarta, 14 maret 2010
Ketika teringat tangga kala itu
Read More

Berselancarku

Kamis, 29 Agustus 2013




Langit sudah menguap dan kembali ke peraduannya. gelappun bangun dan mulai membawa suasana ke dalam kepekatan dimulai, suara bising motor kendaraan jakarta mulai terdengar berisik dan ratusan kendaraan mulai memadati jalan-jalan di Ibukota . menjelang magrib tak terasa suara adzan dikumandangkan dan aku masih terpaku tak bergerak dikursi panasku sejak pagi tadi. suasana mulai sepi, ruanganku dipenuhi hawa dingin oleh dinginnya pendingin ruangan dan hanya mendinginkan satu orang yaitu diriku, maka pemanas tubuhku yang akhirnya bekerja keras menghangatkan diriku. tuts-tuts komputerku masih terpencet oleh jari jemariku dan berselancar menghubungkan dunia diluar sana bersama teman-temanku yang juga terjebak dalam kursi panasnya. Beberapa ini kukeluhkan bahwa jakarta memasuki musim panas dimana udara sangat terik, gersang, serta tambahan polusi yang tak ada habisnya kuhirup. pekerjaanku menuntutku harus bangun sepagi mungkin, pukul 07.00 merupakan pukul pagi yang agak sedikit menyiksa sebenarnya, pekerjaanku adalah seorang konsultan swasta, meski masuk jam 08.30 merupakan pukul yang mulai terik namun pekerjaan utamaku sebenarnya menuntu bangun lebih pagi dimana kewajiban sembahyang sebenarnya kenikmatan dan beban (:D) yang kubutuhkan setiap pagi. kembali kepda pekerjaan utamaku adalah seorang ISTRI, ya!aku seorang istri, (aku wanita), masih dalam tugas utama memasak untuk sarapan suami dan mempersiapkan bekal untuk dia. sebenarnya kalau boleh jujur aktifitas favoritku adalah bermalas-malasan diasur bersama suamiku dalam cengkrama selimut kita seperti manusia yang baru dilahirkan ketika bangun bersama dia, dunia serasa indah dan cerah ketika mentari mulai menunjukkan cahanya, rasa segar diotak kami serasa baru, bersih seperti baru dilahirkan tanpa adanya suatu sekelumit pikiran, rasa cinta yang selalu baru, rasa semangat yang selalu baru, rasa senang yang selalu baru, rasa bahagia yang selalu baru, dan serta ditemani suamiku dengan cintanya yang selalu segar dipagi hari. kembali ke pekerjaan utamaku menjadi seorang istri, tugas utama yang paling utama masih memasakkan suami, aku sebenarnya sangat menyukai memasak, meski rasa pas-pas an semenjak menikah hanya satu dua kali membeli makanan diluar untuk sekeda makan. dia bukan pria yang terlalu sulit untuk diberi makan, bukan pria yang suka mengkritisi sebuah makanan juga, dia seorang pria yang hanya ingin hidup sehat dengan segala jenis makanan. sebenarnya aku sangat bersyukur dengan hal itu, meski skill memasakku pas-pas an aku tetap berusaha memasakkan "rasa" terbaik yang aku punya (:) ). kehidupan beberapa bulan kami menikah masih sangat baik-baik saja dan aku bersyukur akan hal itu. kami masih berusaha mengharapkan sebuah jabang bayi yang telah kami buat dengan penuh cinta. 


Aku dan suamiku terlebihnya aku menginginkan kehidupan yang sederhana. akan kugambarkan bagaiamana detail kehidupan yang menjadi impianku!. aku mendambakan rumah vintage kayu atau rumah adat jawa yang terdapat balai nya, luas dengan bentuk limas, dan dikelilingi pekarangan yang luas dan hijau, rumput yang hijay, pohon-pohon buah yang tumbuh tinggi dan buahnya yang ranum. dekorasi didalamnya srat akan dipenuhi barang-barang "vintage" lukisan, radio jaman dulu, kain-kain etnik indonesia, barang-barang yang didapat dari backpakeran , benda-benda budaya yang bernuansa kayu coklat yang sungguh menyejukkan hati bila kupandang serta foto-foto keluarga yang tergantung disemua sudut ruangan rumah dari shoot tertwawa, berteriak, bercengkrama dan hangatnya sebuah keluargaku. desain dapur yang bernuansa vintage (sebenarnya aku menyontek desain dapur dari fil THE HOLIDAY yang diperankan oleh kate winslet, jack black, cameron diaz dan jude law! hihihi,karea aku sangat menyukainya!). dan sebenarnya ada sedikit ruangan kusus menyimpan peralatan hiking, camping, backpakeran dan travelling! aku dan suamiku sangat menyukai hobi-hobi tersebut (aku bersyukur kepda tuhan bahwa dipertemukan partner dalam hidup dan partner naik gunung! hhihi). memiliki rumah idaman tersebut merupakan salah satu bonus terindah dalam hidup. semoga keluargaku bisa mewujudkannya, aamiin.



kembali pada jakarta yang sudah mulai pekat gelap kulihat dari jendela kantorku. hawa dingin mulai semakin dingin menyerang tubuhku. dan sebuah pesan masuk kudengar melalui telpon genggamku dan sebuah pesan berbunyi "sayang aku sudah ada didepan kantormu", ternyata suamiku sudah datang untuk menjemputku, segera kuakhiri cerita ini dan segera saja aku keluar dari dunia imajinasiku yang berselancar kebelahan pikiran,maya, dan dunia dimananpun segera kuahkiri. :)
Read More

zona

Selasa, 11 Juni 2013

Pagi ini begitu terlihat muram dan dingin sehingga membuat otak membeku dan tubuh menginginkan tempat tidurnya. menginginkan zona ter nyamannya, bahkan lalat pun tak diijinkan untuk mengusiknya. ya, sebuah zona nyaman, zona yang yang aman. zona nyaman sangat berbeda dengan pengertian zona nikmat, ibarat makan kalau kita makan sebelum kenyang sesuai tepat waktu maka itulah zona nyaman lain dengan makan dengan makan karena perut kita kedapatan sinyal lapar lapar yang sangat mungkin dan kita makan maka akan menyebabkan kenikmatan, maka itu zona nikmat. Bukan lagi terkadang, tapi memang kenikmatan muncul setelah mengalami "pesakitan" atau dari muncul rasa yang tidak enak, kata lainnya kelaparan akan suatu hal sesuatu. bahkan kita akan mencapai orgasme kenikmatan tanpa dirasai dahulu rasa lapar tersiksa akan hal itu. Seperti hidup ini yang terkadang sudah "nyaman" dari lahir lancar sampai maut menjemput kita masih keadaan nyaman, bisa dipastikan bahwa orang itu tidak merasakan suatu zona "kenikmatan" didalam hidupnya. zona nikmat melahirkan kebahagiaan, melahirkan kenikmatan setiap langkah, zona nikmat melahirkan kebahgiaan setiap pesakitan yang mengantarkan kita dan merangsang kita pada dophamin yang dikeluarkan. Bahasa asingnya effort adalah teman sejati dari zona nikmat dan sangat berteman baik. berani keluar dari zona nyaman untuk mencari zona nikmat merupakan rangsangan untuk mengeluarkan dophamin dalam kehidupan kita. Bahkan mungkin tukang sampah bisa berada zona nikmatnya daripada anak kongomerat didalam zona nyamannya. tukang sampah bisa sangat kenikmatan dalam lahapnya dari sebungkus nasinya dari pekerjaan berat ditiap langkahnya mengambil dan menarik sampah, sedangkan anak konglomerat bisa makan direstoran supermewah didunia namun dengan uang dari ayahnya yang tinggal "menggesek" papan kartunya namun hanya merasa kenyang nyaman bukan kenikmatan disetiap suapannya. Setiap orang mempunyai mimpi, cita-cita, impian, khayalan. setiap perasaan-perasaan tersebut merupakan kenikmatan bila dapat meraihnya nama dari sebuah mimpi,impian, cita-cita dan impian merupakan hal yang belum bisa diwujudkan oleh seseorang karena disetiap perwujudan itu melewati zona pesakitan/effort yang luar biasa disetiap individu namun membayangkan berhasil makan zona nikmat dan dophamin kenikmatan yang muncul apalgi itu benar-benar terjadi makan orgasme kenikmatan yang didapat. makan kawan zona nyaman tidak sama dengan zona nikmat, rangsanglah dirimu untuk lapar dan keluarkan dophamin mu makan kamu akan orgasme dengan zona nikmat tertinggi.
Read More

catatan jakarta kini (2013)

Selasa, 14 Mei 2013

panas jakarta tak pernah menyurutkan semangat siapapun yang mencoba mengais rejeki untuk memenuhi nafsu makan yang diberikan tuhan. suara kipas angin disetiap petak rumah membuat alunan irama tersendiri dalam menyelesaikan tugasnya dalam mendinginkan, terutama dalam mendinginkan otak manusia "barangkali". candaan hatiku hari ini sempat membuat tawa gelak kegembiraan dalam irama panasnya jakarta. iya jakarta! dalam beberapa bulan ini aku telah ditelan oleh pekat nya polusi jakarta, tak elak banyak orang beringsut-ingsut dengan muka yang menyeramkan selalu lalu lalang dikota ini. kota ini sudah penuh sesak jejal orang, namun tak pernah menyurutkan derak langkah ini dalam menjalankan setiap hentak panjangnya di tanah untuk menyusuri gang-gang sempit yang beberapa bulan ini kulalui untuk memperlihatkan bahwa aku punya kertas yang cukup untuk menghidupiku!.katanya aku manusia yang idealis yang dibentuk dalam sebuah kampus yang mengatasnamakan mencari ilmu untuk suplemen otak? namun nyatanya aku masih takut hidup tanpa ijazah dari sekolah kerakyatan itu.. setiap koyakan polusi dan tak sehatnya matahari jakarta setiap pagi kutemui lebih "banyaknya" tukang sampah menarik-narik gerobaknya daripada manusia-manusia yang katanya lebih banyak uang yang mau berjalan atau sekedar menikmati udara pagi agar tak menyumbang banyak polusi (lagi) di jakarta. setiap pagi kutemui orang bergegas seakan mereka akan dimakan waktu atau kehabisan waktu dalam beberapa detik untuk meneriaki setiap jalan yang dilaluinya agar tidak terkena tumpukan manusia-manusia yang berjejal menginjak-nginjak aspal dengan ban karetnya!. jakarta! jakarta yang mengingatkanku akan kerinduan angin sepoi-sepoi didesaku nan jauh disana. jakarta mengingatkan akan bersyukurnya aku bisa tinggal ditanah yang luas milik orang tuaku dengan lebat nya pepohonan buah yang bisa dimakan sepuasnya. jakarta mengingatkanku akan kerinduan hamparan sawahnya Bapak dan gubuk kecil ditengahnya dengan makan siang lodeh dan ikan asin yang sungguh nikmat. jakarta mengingatkanku akan keramahan tetangga-tetangga rumahku didesa yang saling menyapa dan bercengkrama dipetang ketika lampu padam bergilir. jakarta! kota dengan apapun tersedia, bentuk makanan apapun tersedia, hiburan segala jenis fashion tersedia, kemewahan jenis showroom mobil terhampar! namun kesederhanaan kebahagiaan tak terliput oleh mata, sulit ditemui dengan hati. sulit menemui keseimbangan berbalas senyuman kaum bawah!. "sudah seperti kutukan saja kota ini!" gerutuku dalam teriakan-teriakan yang tertelan bisingnya kipas angin malam ini. sebuah penjajahan atas diri sendiri terjebak dalam tempurung-tempurung kesesakan yang kecil diantara luasnya daratan Indonesia hijaunya Indonesia, maha surganya Indonesia!. jakarta bukan cerminan indahnya alam Indonesia, ramahnya orang Indonesia, toleransi empati orang Indonesia! semakin banyak terkotak-kotak dalam kota ini semakin banyak orang bangsa ini meneriakkan anjuran kebaikan namun tak mau keluar dari zona kenyamanannya. hidup seperti dalam kandang yang diikat dalam tumpukan-tumpukan jerami penuh kotoran ayam tanpa matahari dan tanpa makanan, mungkin itu gambaran jakarta sekarang, dalam mesin waktu aku tidak ingin melihat mas depan beberapa tahun lagi jakarta seperti apa namun aku ingin kembali ke jakarta 100 tahun yang lalu, 100 tahun dalam kerangkeng penjajah namun masih ramah lingkunganya, hijaunya, bersihnya, kebahagiaan, daripada berebut menghirup udara polusi dimasa kini yang terjajah oleh pekatnya polusi mobil yang tak peduli!
Read More