Membara Dalam Asa

Rabu, 18 September 2019


Perasaan, perasaan apa yang sangat menggaggumu hingga larut malam pun tak membuatmu terlena?.
Malam ini begitu gerah seperti hari-hari lalu, musim panas tak hentinya bersinar memanasi setiap kepala-kepala yang ada di jalan. Akupun sama perasaan ini sepanas bulan september 2019 akibat climate change yang semakin memanaskan planet bumi yang sudah tersiksa oleh kita, ya kita! kita manusia dengan segala ambisinya mungkin. Ah klasik!

Malam ini mata pun tak bisa terpicing sedikitpun, Selain hawa panas yang membawa ribuan nyamuk berhamburan menyerbuku dalam gelapnya kamar. Hawa dingin dari penyejuk kamar pun tak menggetarkan nyamuk-nyamuk itu. Seperti manusia yang tak gentar oleh panasnya bumi karena ulahnya sendiri. Sampai aku bingung nanti kalau ditanya cucuku aku akan jawab apa.

Semua tahu atau sebagian ya bahwa bumi sudah berumur miliyaran tahun lamanya. Namun sangat rusak hanya beberapa ratus ribu tahun setelah manusia memenangi puncak piramida kehidupan. Ya, aku rasa manusia lahir dengan insting perusak mungkin. Ah sudahlah aku sendiri juga tak bisa berkontribusi dan terus mencaci setiap hidupku dalam panas sekarang ini.

Panas, iya panas sangat membuat manusia kadang tak berakal untuk mengutuk setiap jengkal yang disebabkannya, asap mulai bermunculan menghantui setiap kepala karena panas tak kunjung menurukan tahtanya, gambut yang tertidur pun bangun karena kepanasan dan beringas membabi buta mengeluarkan amarahnya kepada manusia sekitarnya. Manusia yang mungil tak bisa berbuata apa-apa dan menahan sesak paru-parunya dipenuhi teriakan asap yang sangat liar. Sampai-sampai manusia lemah tak berdaya menjadi tak berdaya.

Disini ditempat tidurku malam ini aku hanya bisa mengetik dan berteriak dalam malam tak berbuat apa-apa untuk menidurkan gambut dan hutan yang berteriak juga dalam panasnya serta manusia-manusia yang sudah tersiksa dengan kepulan asapnya.

Ya Tuhan apakah ini binasa yang akan menimpa kita hamba-hamba manusia? Tuhan berikan sedikit saja air dari surga untuk sodara-sodara yang terkena kelakar gambut yang meraung-meraung menyeburkan asapnya dari perutnya. Kuatkanlah kami ya Tuhan untuk terus berjuang sebatas nafas terus terjaga. dan maafkanlah kami ya Tuhan atas segala dosa yang diperbuat budak manusia untuk memenuhi kuasanya!

Namun apakah masih pantas kita meminta bantuan Tuhan atas dasar ketamakan yang telah kita telan sampai leher? Aku rasa Tuhan maha pengasih untuk kasih orang-orang yang hatinya bersih. Bukan! bukan aku tapi anak-anak kecil yang luar biasa kecil tak bersayap oleh kepungan asap murka karena rasa, rasa bumi ini yang terus menggeliat tak berdaya juga oleh manusia-manusia dewasa yang sudah lupa kodrat alamnya!

Posting Komentar