Ngomongin bahagia, setiap orang benar-benar punya preferensi bahagianya masing-masing yang berbeda. Mungkin aku sekarang bahagia dengan hanya mempunyai anak satu saja. Aku merasa sudah sangat cukup, jujur aku sangat menyukai anak kecil tapi ketika mendidiknya untuk menjadi anak besar aku suka bingung sendiri dengan segala idealismeku dan tantangan kehidupan, jadi ngomongin bahagia tadi aku sudah sangat cukup bahagia sekarang, setiap orang punya pilihan masing-masing. Mau punya anak 1, 2, 3, bahkan 10 itu hak individu masing-masing. Bahkan memutuskan tidak punya anak juga preferensi masing-masing setiap individu manusia. Mau yangg punya anak 10,4,2,1 atau 0 mereka punya porsi bahagia yang sama dengan preferensi bahagianya. Betul tidak?
Sekarang aku dihadapkan dengan pilihan mendidik anak ku dengan berbagai macam info media dan parenting yang begitu banyak berhamburan di internet tak luput membuatku gelisah juga apakah aku sudah menjadi ibu yang baik? Tak tahu lah aku, namun kadang aku menghempaskan rasa itu dan berusaha mensyukuri keadaanku sekarang. Sekolah anak juga dimana anakku sudah memasuki usia SD tahun ini, dengan banyaknya pilihan sekolah yang sangat banyak sekali di sekitar rumahku, apakah tepat aku menyekolahkan anakku dengan biaya yang menurutku membuat kerut kening neneknya berkerut, "semahal itulah menyelolahkan anak disekitarmu?" Tanyanya.
Kembali perasaan ini menyelimutiku apakah dengan biaya yang tidak sedikit anakku bisa maksimal sekolahnya? Apakah aku cuma mengejar dendam pada diriku sendiri apa-apa yang tidak kudapatkan pada waktu aku kecil? Aku masih bertanya sampai hari ini. Apakah sudah tepatkah keputusanku? Tidakkah aku akan menyesali suatu hari nanti? Ataukah yaudahlah just let it flow, tidak ada yang sempurna untuk semua hal? Begitulah kira-kira beberapa hari ini kegelisahan menyelimutiku dalam hal “mengasuh” anak.
Di lain sisi aku juga ingin punya anak lagi, tapi kembali ke awal apakah aku sanggup balik lagi tetek bengeknya anak dan segala biayanya, mungkin untuk anak pertamaku sekarang, aku dan pasanganku bisa memberikan yang terbaik dan segala segalanya atas semua dendam masa kecilku tidak terpenuhi. Namun apakah kalau aku punya anak lagi akan seadanya membesarkan tidak seperti ambisi ketika anak pertama lahir? Dari sini aku sudah sangat takut akan ketidakadilan diriku menilai diriku untuk mempunyai anak lagi.
Memang menjadi PR sekali mempunyai anak di era zaman sudah sangat penuh sesak manusia, zaman yang begitu membutuhkan effort finansial yang besar, belum effort pengasuhan anak yang dinginkan sesuai maraknya informasi dan internet yang bisa dijangkau siapapun dan dimanapun semua anak, orang berada.
Tetaplah semangat menyambut hari berikutnya wahai ibu-inu, manusia-manusia, bapak bapak, anak-anak di luar sana. Berjuanglah sampai titik darah pengahabisan. Berdoalah agar Tuhan menenangkan jiwamu, bertengkarlah dengan hawa nafsumu, bahagiakan hatimu, gapailah semua list-list permintaanmu.
Posting Komentar