selayang kenangan

Rabu, 08 Desember 2021

Lama aku belajar menghargai orang, lama untukku belajar mengalah meski masih suka keras kepala. Ketidakgampngan percaya ku pada orang meski orang terdekat menjadi sebuah kerikil sendiri di hidupku. Masa kecil yang ditinggal ibu menjadi TKW mungkin membentukku keras dari kecil. Susah untuk percaya sama orang, susah untuk menjadi dekat dengan orang, susah percaya, susah menghargai. Kadang sampai sekarangpun aku masih suka mengutuk orang-orang yang cengeng, meski sebenrnya aku sendiri sangat sangat cengeng. Sedari kecil memutuskan semua sendiri karena lacking of parenting dari orangtua, yang notabene bapa ibuku bukan orang pendidikan dan berasal dari pelosok kampung di Jawa Timur, bukan mengecilkan mereka namun memang silsilah keluarga dari kakek nenek pun belum pernah ada yang mengenyam pemdidikan sampai perguruan tinggi, satu-satunya orang yang kuliah hanya diriku dari lima bersaudara. 

Ibuku harus menajdi TKW ketika aku kecil menjadi sebuah trauma yang tidak kusadari, bagaimana ku masih ingat rasanya berjuang dituntut menajdi lebih dewasa dari usiaku sebenarnya, kelas 1 SD sudah mencuci baju sendiri, setrika sendiri terkadang memasak sendiri untukku dan bapakku. Mana mungkin hal itu dilakukan oleh anakku saat ini. 

Rasa sendiri yang masih kadang ku ingat, ketika sakit demam menjangkitiku tidak ada ibu yang memelukku ditengah malam ketika aku bangun kepanasan dan sakit yang terasa lama ketika malam. Masih teringat easa-rasa tidak enak itu sampai saat ini. Menangis sendiri ketika masalah datang kepadaku dari kecil. Tidak bisa bercerita, mereka mungkin melihatku hanya bermain dan bermain. Namun kadang kesepian menjangkiti karena tak ada ibu disampingku.

Ketika ibu memutuskan sudah tidak menjadi TKW diusiaku pas SMP kelas 1, aku SMP menjadi anak -yang melawan ibuku, aku merasa bahwa selama ini merasa sendiri dan tidak suka di atur-atur, dan dalam hati menyalahkan kenapa 6 tahun ini kamu meninggalkan aku? anak seumur itu mana mengerti arti mencari uang dan menyambung hidup. Meski ku baru tau juga akalau ibu sedang menelfon dari luar negeri dan tak dapat bicara denganku beliau sangat sedih dan galau.

Ya, aku baru tau itu! beliau mencintaiku, aku merasa dicintai, dans ebagai orang yang umur 30 tahun tentu saja aku tau perjuangan menyambung hidup dan memilih menjadi working mom tidak mudah meski kehidupan mengoyaknya untuk mecari peruntungan dan uang! Semua trauma, latar belakang pendidikan keluarga yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan anak menjadikan anak-anak seumuranku dulu menajdi lebih dewasa. Sampai aku kuliahpun rasanya though akan diriku begitu berasa, aku yang tidak butuh teman, aku yang tidak bisa percaya dengan orang lain sampai sekrang, aku yang tidak bisa seujujurnya kepada orang lain selain suamiku sendiri. 

Kenangan-kengan kelam dari rasa tidak nyaman menjadi kesepian terus menghantuiku sampai saat ini, aku menajdi orang yang takut kesepian, haus akan kasih sayang dan menjadi orang yang sedikit curigaan. latar belakang yang menjadikanku seperti itu. 

Dahulu aku sangat iri kepada keluarga yang utuh, harmonis, bapaknya membimbinng anaknya dengan benar, menyanyangi, kontak fisik antar keluarga yang hangat. Aku kecil sendiri, kakak-kakakku sudah dewasa dimana jarak terlampau jauh dari 10-21 tahum, bapak pendiam otoriter dan cuek, Bayangkan kan? hehehehe, ya itu yang kuarasakan sampai saat ini meski hubunganku dengan ibu sudah baik sejak aku lulus SMA, aku sudah tak terlalu berani menbantah perkataannya, sejak aku melahirkan rasa hormat semakin terbentuk. Momen menikah dan melahirkan serta hidup merantau menajdikanku merasakan betapa beratnya menajdi seorang ibu.

Mencintai tanpa sarat sepenuhnya kepada anak, berkorban sepenuhnya untuk anak, serta kerasnya tamparan-tamparan kehidupan setelah menika, yaitu mandiri seutuhnya atas hidup kita sendiri. Semua orang berhak bahagia, semoga kebahagiaan selalu tercurahkan kepada ibuku yang sekarang suadah mulai sepuh dan aku belum bisa membahgiakan beliau sepenuhnya, semoga aku menajdi ibu yang bahagia untuk anakku. semoga aku tidak mencorat-coret trauma di kehidupan anakku, menajdi orangtua tanggung jawab nya sangat berat untuk menciptkan keturunan yang sepenuhnya puas bahagia apapun keadaanya. 

Dari aku yang belajar untuk mengalah, tidak keras kepala, mengerti perasaan pasanganku dan berusaha mersaakan di kaki nya, Ah malam sudah malam sekali sampai suara hatikupun terdengar jauh sekali menajdi tulisan ini.


Depok, 9 Desember 2021

Read More

Julid

Sabtu, 20 November 2021

Kesempurnaan sosial media menjadi sebuah bencana besar juga untuk umat manusia tahun-tahun ini. Banyak influencer yang menampilkan kesempurnaan tanpa cacat. Seakan orang awam seperti kita hidupnya sangat jauh dari kesempurnaan itu, mempengaruhi mental dan tidak membuat bahagia adalah hal yang sangat negatif untuk tahun-tahun ini. Saya sendiri lebih senang akan influencer yang mengulas tentang gender equality, kehidupan manusia yang wajar, dll daripada home decor yang selalu terlihat sempurna tanpa cela. Banyak influencer juga yang menormalisasikan rumah yang berantakan, beratnya punya bayi di awal-awal kelahiran, pernikahan yang tidak sempurna atau anak yang tidak sempurna bahkan kita sendiri yang tidak sempurna. 

Bukankah manusia itu tidak sempurna yang membuatnya manusia? kehidupan influencer atau selebritas papan-papan atas dimana hidupnya sempurna tanpa cela, apakah mereka bahagia 100% tentu bisa tidak dan iya tapi kemungkinan tidak 100% besar sekali, karena manusia sendiri tidak sempurna hanya sekedar terlihat sempurna di media sosial. 

Saya sendiri sekarang memang lebih bahagia bila berkumpul dengan siapapun tanpa pegang gadget dan lebih menikmati obrolan sederhana tapi hadir seutuhnya. Sampai detik ini akupun mengalami kecematas atas terlalu capek memegang gadget dan hanya scrolling media media sosial. sampai di tahap melihat hp saja sedikit mual dan pusing. 

Media sosial menjadi boomerang atas penemuan manusia, ya memang puasa media sosial saat ini sangat bisa di pertimbangkan. Namun aku masih kesulitan atas oversharingku juga di media sosial. karena kurangnya kegiatan di dunia nyata membuatku lebih banyak scrolling media sosial. Betapa dampaknya terasa atas sumber kebahgiaanku, kecemasan menyerang, dan lain sebagainya. 

Belajar untuk mengurangi media sosial dan pamer ku di media sosial. Tidak ku pungkiri terkadang sharing sesuatu di media sosial menjadi pamer atas kehidupanku, mau berbagi dan biar "di lihat orang". Betapa terkadang ku mengutuk diriku atas oversharingku, namun memang tiada kurangnya kegiatan di dunia nyata membuatku sering posting tidak penting di media sosialku.

Balik ke influencer yang serba sempurna, mereka juga berusaha "make living" dari media sosial, tidak dipungkiri media sosial menjadi sumber pundi-pundi uang yang tidak sedikit, banyak malah. Tidak terpikirkan 15 tahun lalu mungkin orang akan mendapat uang dari kegiatan hanya dari layar sentuh yang kecil. tidak dipungkiri kesempurnaan-kesempurnaan, info-info financial, serta isi-isi semua tips dan trick kehidupan semuanya hanya dari media sosial dan menajdi pekerjaan yang menjanjikan. 

Memang sudah waktunya kita punya batasan sendiri dalam memilih isi media sosial kita atau lebih tepatnya membatasi diri kalau kita sendiri sadar atas bounderies kita dalam melihat hal-hal yang akan sangat membuat kita cemas, membandingkan, merasa rendah diri, merasa diri ini tidak berharga memang seharusnya kita tidak sering-sering melihat media sosial dan berusaha uninstall media sosial kita agar kita tidak semakin menjadi tidak  bahagia. 

begitulah kejulidanku, hanya melihat dari sisiku saja, rasanya memang seharusnya aku harus berkaca dan berefleksi mencari kegiatan yang berfaedah daripada mengutuki kehidupan orang lain di media sosial yang dia bangun yang kita tidak tahu di belakangnya ada darah dan airmata. Bukan menyalahkan orang lain atas terlihat bahagianya namun kita yang harus bisa menajga hati kita, sudah harus menetapkan bounderies kita sendiri, follow unfollow ada ditanganmu, buka atau tidak buka hp ada di tanganmu, bukan ada di postingan influencer atau orang lain. 




Read More

Efek Sejimpit Kopi

Kamis, 19 Agustus 2021

Kerutan wajah sudah tak terbentung muncul di wajahku, kukira tua dan umur itu hanya angka. Namun tidak ternyata, itu yang sungguh pasti akan terjadi kepada semua makhluk hidup yang bernafas di bumi ini. Kopi kembali membuat otak dan hatiku konslet lagi, pikiran melayang tak tentu arah sambil merayapi kehidupan kehidupan yang sudah kulewati. Bagaimana ku fikir memang manusia tempat derita keinginan dan tak pernah puas. Aku yang belum selesai dengan diriku sendiri, masih memikirkan sejuta keinginan-keinginan dan kekawatiran-kewatiran massa depan yang serasa sudah pasti seperti yang kufikirkan. Padahal itu semua hanya ilusi, hanya sandiwara di dalam otakku, eh, bukan ternyata hanya dalam fikiranku. 
Memikirkan anak sudah besar dan bakal meninggalkan diriku saja bisa membuat ibu-ibu seperti diriku nangis, sedih dan galau tak berujung. Belum melihat berita pandemi dan negeri di belahan bumi lain sedang perang. Bukan membandingkan, tapi memikirkan bagaimana diriku, keluargaku di posisi seperti itu, sedangkan bahkan saja sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Siapa diriku yang bila mati pun mungkin tak kan banyak yang melayat sangking hanya pusaran rumah kecil ini pergerakanku!.

Manusia tempat sumber keinginan, maka dari itu penderitaannya tak pernah berakhir, kepuasan, keinginan, hasrat dan hawa nafsu kefanaan ini benar-benar menyiksa seluruh setiap  individu manusia. Kuingin mencari hakikat hidupku selain beban di bumi ini apa? apakah aku bisa bermanfaat untuk orang lain? sekedar melepas penderitaan-penderitaan di sekitarku saja apakah aku bisa? selama ini masih hanya ku kejar keinginan diri, uang, yang tak ada habisnya dicari, belum dapat meski raga sudah di galian liang lahat. 

Setiap manusia pasti ingin hidupnya bisa berkontribusi meski dalam komunitas terkecil dalam masyarakat, setiap  manusia ingin mersasa berarti dan penting, bahkan mungkin sedikit di hormati. Nah, seperti itu saja aku sudah menghakimi setiap orang. Pikiran-pikiran seperti itu sudah seperti benang kusut efek dari kopi yang ku seruput. Ah capek sekali rasanya. 

Beberapa waktu lalu ku sudah mendapatkan penyakit pandemi virus yang booming dari 2020 ini, hampir saja mungkin aku mati. Kadang mungkin kalau mati itu jawaban atas semua fikiran-fikiran kekawatiran yang tak berujung begini. Namun mungkin lagi-lagi anak yang membuatku enggan cepat-cepat ketemu Illahi, pede saja saya tidak disiksa di neraka. hehe

Malam begitu panjang bila ku minum secangkir kopi, bahkan bukan kopi murni, kopi sejimpit dan tiga perempat susu saja membuat pikiranku kacau seruwet rambut yang tak pernah keramas. Kapan ku bisa bermanfaat dan selesai dengan diriuku sendiri? kepalaku kembali mendobrak dari efek kafein yang kurang ajar. 

Sempat tadi ku berkendara dan bercerita dengan diriku sendiri sembari menyetir mobil mengelilingi kota agar bisa kumaki diriku sendiri. Sekarang sekedar menangis betapa susahnya meski sendiri, tapi himpitan-himpitan kekawatiran atas semua hal begitu tak mengenakkan. Aku berfikir kapan kamu selesai dengan dirimu sendiri hah?? semua impian-impianmu sudah 70 persen sudah terwujud, masih belum bisa aku mengendalikan hawa nafsu fana yang mungkin itu hanya untuk mengimpresi orang lain!, padahal semua itu tak akan dipedulikan orang lain bahkan yang melihat hanya akan menggeser ceritamu dan mengisi dengan cerita masing-masing. 

Sampai-sampai kerutan semakin menjadi garis jelas yang tak akan bisa disembuhkan skincare-skincare mahal itu. Buat apa moles fisik dan memikirkan impresi orang lain? tidurlah masih ada hari esok yang harus kau hadapi. Masih panjang bila ku tak mati cepat, masih panjang tanggung jawabmu atas mahkluk kecil bernama anak. Sampai ku berfikir dengan punya anak itu membawanya ke kehidupan yang sengsara di bumi ini, harus menghadapi dan belajar betapa dilahirkan itu tidak enak kalau orangtuamu tidak kaya raya. hahaha

maafkan aku anakku, aku tidak meminta apa-apa darimu, aku hanya berharap sebagai ibu, sebagai orangtua kuingin engkau bahagia dan bahagia aku dan ayahmu menjadi orangtuamu, tidak malu berorangtua kami itu hanya saja harapanku kepada anakku, meski orangtua mana sih yang sempurna, tapi semoga hanya kenangan indah yang menempel di otakmu anakku. Songsonglah kehidpan ini dengan lebih bail, semoga engkau beruntung dunia akhirat, bahagia dunia akhira, serta mendapatkan jodoh yang baik dan selalu memperjuangkanmu didalam setiap tarik nafas kehidupan. 

Nah kan serandom itu pikiranku malam ini, gema-gema sepi mengisi jalan-jalan depan rumahku, hawa dingin menyelimuti setiap saja yang sekededar mengengokkan mata keluar, Bulan enggan keluar karena kabut hujan membasahi lantai tanah sore ini. Malam menari seakan pesta tak akan pernah usia untuknya. 

Mata keiput ini tak bisa terpejam, ku pandangi wajah mungilnya dan kuciumi seakan itu dopahmine yang menjadi candu otakku dan cintaku. 
Read More

hidup yang bercanda

Selasa, 12 Januari 2021

Bukan dari keluarga kaya kadang membuat pikiranku berorientasi pada uang. Memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak, bisa jalan-jalan dan hidup tenang di akhir hayat. Melihat orangtuaku tepatnya ibuku sampai umur sekarang membuatku pilu dan membuatku berfikir apakah aku akan sampai tua akan mengejar uang hanya sekadar untuk makan dan tidak ada habisnya?

Ngomongin privilage apa sih privilage bisa sampai memepngaruhi kehidupan seseorang? ketika teman atau siapa mendapat privilage dari keluarga cukup bahkan kaya mereka tidak akan pernah memikirkan ketika sedang belajar dan orangtuamu menggerutu terus tentang bagaimana kamu menghabiskan uang mereka untuk sekolah! bahkan untuk sekolah saja dari SMP aku dan ibuku selalu berdebat tentang kuliah! saya mau kuliah sejak SMP bahkan impian saya yang mungkin mustahil saat itu. Ibuku menentang, mendebat, memarahi, dan waktu kelam sering debat bersama ibu. ayahku kemana? tidak peduli atau tepatnya hanya diam saja tidak pernah berkata sedikitpun tentang keinginan anak-anaknya. 

Sampai disini bisa dilihat betapa ketika anak yang orangtuanya sadar akan pendidikan dan uang untuk sekolah pasti anaknya tinggal sekolah dan belajar, tidak akan terganggu oleh teriakan teriakan di rumah tentang beratnya hidup!

Mungkin pun sama dengan suamiku dimana dia sekolah pas pada masa sulitnya kehidupan orangtuanya dimana ayahnya sedang sakit stroke. Jadi dia tidak melanjutkan semester nya di Universitas negeri kala itu, dampaknya apa? dampaknya karir suamiku sering tersendat karena masalah ijazah yang belum menempuh S1. Untuk sampai di titik ini mungkin beruntung, serta orang-orang baik yang membantunya atau melihat potensinya. 

Sampai disini pasti sudah pada tau betapa dahsyatnya efek privilage punya uang untuk sekolah anak. anak yang dari keluarga kaya, mulai sekolah, menikah dan dibelikan rumah, mobil dan semuanya. Ya pasti iri lah. Tapi ya namanya hidup yang kuketahui sampai sekarang tidak ada atau belum semua orang makmur apalagi di negara tercintah kita. 

Betapa kemiskinan membentuk takdir, psikologis seseorang, karakter seseorang dsb. Berapa persen sih anak melarat jadi sukses daripada anak orang kaya dan sukses? Kalau kamu bilang semua harus diperjuangkan mati-matian untuk pindah derajat itu berapa banyak orang anak miskin jadi kaya sukses? ratenya berapa persen? coba deh kamu aja dulu mulai lahir tidak punya apa-apa, mau lihat aja berapa ke "survive" an mu!

Sampai saat ini ya kami, aku hanya berusaha sekuat tenaga, pikiran, agar tidak gila untuk bertahan! bertahan dikondisi saat ini, kondisi yang tidak menentu. Kondisi semua mimpi dan harapan hanya prioritas kesekian agar tidak mati kelaparan, bisa bayar listrik dan bayar cicilan serta sekolah anak. 

Semua orang pada akhirnya akan punya segudang masalah sendiri, even kamu dari keluarga kaya atau miskin. Yang miskin mungkin impian bisa beli mobil dan tidak punya hutang mungkin pencapaian yang diimpikan impikan dan mustahil dalam hidupnya. Yang kaya mungkin makan enak, rumah dan mobil nyaman saja tidak mampu meberikan kebahagiaan mungkin. 

Pada akhirnya sama! semua berkejar mencari kedamaian hati, semua berlomba-lomba menjadi nomor satu versinya. Namun semoga semua sadar bahwa semua tidak akan pernah sama porsinya dalam menilai, uang, kebahagiaan, kedamaian, dan pengakuan bagi masing-masing orang. 


Read More