Joker
Film Joker sudah tayang hampir seminggu, semua orang membicarakannya. Diriku juga tak melewatkan untuk menonton film itu yang sudah geger seantero jagad dunia perfilman hollywood. Sore itu akhirnya aku memutuskan beli tiket via online, langsung ku kontak suamiku untuk janjian bertemu di salah satu bioskop yang biasa tempat kami nonton film, karena hari kerja otomatis aku juga berangkat sendiri naik gojek, karena tidak memungkinkan naik mobil pas pulang kerja pasti macet. Benar tebakanku, meski naik gojek aja waktu sampai pas dengan jam tayang film tersebut karena di jalan macet meski naik motor.
Joker
Sesudah selesai nonton aku masih merasakan sesuatu yang tidak enak dihati, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya terbawa sesuatu terselimuti kabut dan chaos-nya kota Gotham. Sungguh luar biasa akting Joaquin Phoneix memerankan tokoh Joker. Kalau biasanya sudah berekspektasi akan film hero atau pahlawan karena identik dengan musuhnya Batman sama sekali salah, karena film ini tidak ada film hero-heronya ala film-film DC atau Marvel.
Joker
Digambarkan sebagai Arthut Fleck, anak adopsi hasil abusing ibunya pada waktu kecilnya sehingga mengalami cedera otak dan itu menjadi punya gangguan kejiwaan yang serius. Dengan latar belakang kemiskinan, perundungan atau bullying semakin lengkaplah penderitaan Joker.
Joker
Disitu kadang kita bisa melihat dalamnya kegelapan hati manusia, dengan segala kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi dan membentuk pribadi anak, akan menciptakan monster trauma. Sebagai manusia juga kita akan menciptakan pertahanan diri, namun untuk mencoba pertama untuk memepertahankan diri biasanya sanagt sulit, sehingga misal sudah melewati first defence selanjutnya akan lebih mudah untuk bertahan dan menjadi pelampiasan akibat trauma-trauma bulllying yang kita terima.
Panjang banget sih rasanya, filmnya benar-benar mengangkat tentang issue mental illness, bullying, kesenjangan sosial masyarakat. Kebanyakan masyarakat tidak peduli dan mencibir orang-orang depresi dengan gangguan jiwa, yang ada malah mencibir, membulinya. Gini, maksudnya memang kebanyakan orang itu lahir tanpa coretan, selain genetik lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana kita terbentuk, bagaimana perilaku kita. Joker di gambarkan juga sebagai orang baik dengan kehidupan normalnya yang tidak neko-neko hanya memang gangguan otaknya membuatnya aneh yang kadang memang membuat orang disekitarnya takut dan menolak karena memang kita tidak berusaha mendekatinya, merangkulnya, membantunya untuk sembuh dan diterima dengan biasa oleh lingkungan sekitar kita.
Diluar sana banyak yang bilang dia jahat karena orang baik yang tersakiti, memang benar juga dia berusaha sekali hidup normal, dia berusaha sekali menghiraukan penyakit jiwanya, dia berusaha untuk mengabaikan perasaannya yang terabaikan. Hingga akhirnya meledaklah seperti bom atom. Merasa dia bisa melawan dan membuatnya tidak menyesal karena yang dia bunuh orang-orang yang jahat padanya, sampai suatu scene dia melepaskan temannya yang selalu baik padanya. Pada poin ini dia benar-benar masih menggunakan hatinya, menahan rasa jahatnya.
Namun bila film Joker untuk excuse kriminalitas aku rasa big no, karena diluar sana juga banyak orang yang sudah berniat jahat kepada yang baik sekalipun, seperti dalam bukku Sapiens karya Yuval Noah Hariri, dalam individu kita itu bertindak sama dengan hewan, yang membedakan kita dengan hewan hanya masalah kita bisa lebih berkumpul dengan tatanana masyarakat yang lebih besar.
Masalah bullying memang menjadi concern di dunia ini, meski perundungan dari dulu sudah ada, dan sekarang pun masih sangat exist baik di instasi sekolah, di lingkungan sekitar kita. Kita tetap harus concern dan menyebarkan luas anti bullying terhadap anak kita kepada siapapun, yang menajdi masalah biasanya pembuli juga mempunyai masalah serius kenapa dia bisa bertindak seperti itu, bullying selain masalah taruma dan menciptakan pembuli lagi dari hasil korban, juga bullying itu semata-semata karena masalah kekuasaan diri. Kekuasaan rasa mendominasi hampir ada di seluruh watak manusia, merasa paling kuat dan bisa menindas paling lemah.
Ya begitualah pandanganku tentang film Joker, dari sinematografinya bagus banget, cerita, akting dan pesan. Maka dari itu film ini diberi rating D17+ dimana anak-anak dibawah itu harus pengawasan ketat orang tuanya tidak boleh menonton, umur 15 keatas bolehlah namun harus ada ruang diskusi untuk mendiskusikan adegan-adegan dan moral story didalamnya, karena obanyak adegan-adegan yang cukup brutal yang mungkin sama dengan adegan kehidupan nyata, buka adegan ala film John Wick yang seperti diada-adakan. Apalagi banyak sekali di twitter para netizen mengeluhkan masih banyak orangtua yang membawa anak diabwah 10 tahun bahkan balita, aku tidak habis fikir bagaimana pikiran orangtua tersebut, apalagi misal setelah memasuki bioskop dan ada beberapa adegan kejam masih tidak keluar mengajak anaknya keluar.
Meski didalmnya banyak adegan ala-ala stand up comedy bukan berarti lucu, sama sekali tidak ada kelucuan dalam film tersebut, semua filmnya menggambarkan sebuah kesuraman hidup Joker, kota Gotham. Bahkan untuk tertwa nyengir aja rasanya terlalu dark di dalam hati.
Itulah sekilas selayang pandang ku, menjadi perenungan kita semua, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita harus peduli kepada semua orang. Masalah kejiwaan seseorang kita harus berusaha membantunya keluar dari dark circlenya. Dan itu harus diajarkan kepada semua anak-anak kita bagaimana kita harus memperlkaukan orang lain dengan baik.
Bravo untuk Joaquin Phoenix atas aktingnya, semoga peran tersebut tidak mempengaruhinya dalam kehidupan nyata. Semoga dia juga selalu baik-baik saja.